Rabu, 20 Juli 2016

POSISI KEPALA UNTUK PASIEN HEAD INJURY 
By: Ns, Sulistyono, M.Kep


PENDAHULUAN 
Cedera kepala merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi ditengah masyarakat yang mana perlu mendapatkan perhatian besar, dikarenakan hal ini sering menimpa golongan usia produktif, disamping itu sering menimbulkan kematian khususnya Head Injuri Great III yang mana biasanya kelihatan ringan atau berat yang mengakibatkan pingsan sejenak, sedikit disertai penurunan suhu tubuh, frekwensi nadi, tekanan darah, muntah, yang disebabkan terangsangnya pusat muntah didalam modula oblongata, kemudian penderita dengan cepat siuman kembali tanpa mengalami defisit neurologi dan biasanya diertai dengan retograd yaitu lupa akan kejadian pada waktu beberapa saat sesudah terjadi kecelakaan. ( Markam 1992 ).

Secara umum kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama terjadinya trauma kepala dengan prosentase diatas 50%. Data dari Health Interview Survey menunjukkan bahwa sekitar seperlima trauma masuk kategori moderate sampai parah. Hanya 15% dari total trauma kepala di populasi yang dirawat di Rumah Sakit, dan hanya 9,6% dari yang masuk rumah sakit mempunyai GCS antara 3-11. Angka kematian trauma kepala di Amerika Serikat berkisar antara 14-30 per 100.000 penduduk. Angka kematian dari pasien yang masuk rumah sakit berkisar sangat lebar antara 4 – 25%. Lebih dari 60% kematian terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit (Winkelman, 2006)

Di negara berkembang seperti Indonesia dengan meingkatnya pembangunan dengan pesat yang mana diikuti mobilitas masyarakat yang tinggi sehingga mengakibatkan lalu lintas kendaraan bermotor sangat padat yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas makin sering terjadi dan korban cedera kepala makin banyak pula. Lebih dari setengah dari semua pasien dengan cedera kepala berat mempunyai signifikansi terhadap cedera bagian tubuh lainnya. Adanya shock hipovolemik pada pasien cedera kepala biasanya karena adanya cedera bagian tubuh lainnya. Resiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan tekanan intra kranial (PTIK).

Dengan kondisi seperti tersebut diatas seorang perawat sangat berperan di dalam penatalaksanaan gawat darurat dalam kasus cedera kepala, bagaimana cara kita melakukan pengkajian keperawatan tentang cedera kepala sampai dengan melakukan evaluasi dari kasus yang telah tersedia. Fenomena yang ada banyak teori antara yang satu dengan yang lain bertentangan yaitu masalah penatalaksanaan terhadap cedera kepala, khususnya yang berkaitan dengan pengaturan posisi kepala, hal ini sangat vital karena menyangkut tentang ketepatan penatalaksanaan pada trauma kepala yang mana sangat menentukan berhasil tidaknya tindakan yang kita berikan pada penderita dalam rangka usaha untuk menyelamatkan jiwa seseorang.

PEMBAHASAN 

Perlu kita ketahui bahwa dalam penatalaksanaan cedera kepala mempunyai tujuan untuk mempertahankan fisiologi umum tubuh, penatalaksanaan segera akibat cedera primer, pencegahan atau meminimalkan cedera kapala sekunder dengan penatalaksanaan peningkatan tekanan intrakranial (TIK), mempertahankan tekanan perfusi serebral yang adekuat, disamping itu pada kasus cedera kepala, kerusakan otak dapat terjadi cedera primer dan cedera sekunder. Cedera primer merupakan cedera pada kepala sebagai akibat langsung dari suatu trauma, dapat disebabkan benturan langsung kepala dengan benda keras maupun oleh proses akselarasi deselarasi gerakan kepala itu sendiri, apabila cedera kepala primer tidak ditangani dengan segera maka dapat muncul manifestasi dari cedera kepala sekunder yang akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien (Gennarelli, Meaney, 2006 dan Retnaningsih,2008).

Dalam penatalaksanaan pasien yang mengalami cedera kepala mempunyai beberapa prinsip dasar, yaitu: Monitor tekanan intrakranial beserta penurunannya, elevasi kepala 30 derajat, terapi medika mentosa untuk penurunan odema otak, penurunan aktivitas otak, menurunkan hantaran oxygen dengan induksi koma, pembedahan dekompresi, dan terapi profilaksi terhadap kejang. Kemudian untuk penatalaksanaannya dapat dikelompokkan berdasarkan: 1). Kondisi kesadaran pasien yang mana terdiri dari kesadaran menurun dan kesadaran baik. 2).Tindakan, terdiri dari terapi non-operatif dan terapi operatif. 3). Saat kejadian yaitu: manajemen prehospital, Instalasi Gawat Darurat, dan perawatan di ruang rawat (Lyna Soertidewi, 2012 dan Retnaningsih,2008).

Dalam penatalaksanaan pasien cedera kepala ini, yang berkaitan dengan prinsip dasar khususnya penentuan posisi kepala pasien cedera kepala terdapat beberapa pendapat yang mana masing-masing pendapat mempunyai rasional sendiri-sendiri. Ada yang berpendapat bahwa untuk pasien yang mengalami cedera kepala posisi kepala harus sejajar dengan tubuh, ada yang berpendapat posisi kepala harus lebih rendah dari kepala, ada yang berpendapat bahwa Bagian kepala ditinggikan 20° - 30° dengan kepala dan dada pada satu bidang, dan ada juga yang berpendapat posisi kepala harus elevasi 15° sampai dengan 30° seperti yang tersebut diatas.

Disini penulis lebih lebih setuju dengan pendapat bahwa posisi kepala harus elevasi 15° sampai dengan 30°, hal ini bertujuan untuk meningkatkan venous drainage dari kepala, disamping itu elevasi kepala dapat menyebabkan penurunan tekanan darah sistemik, mungkin dapat dikompromi oleh tekanan perfusi serebral. Dan jika elevasi lebih tinggi dari 30° maka tekanan perfusi otak akan mengalami penurunan. Kemudian dalam penatalaksanaan pasien cedera kepala yang mengalami TIK disarankan untuk menghindari posisi tengkurap dan trendelenburg. Disamping itu hal ini juga berkaitan dengan prinsip dasar penatalaksanaan pada pasien cedera kepala yaitu monitor tekanan intrakranial beserta penurunannya. Kita ketahui bahwa yang dimaksud tekanan intrakranial adalah: tekanan dalam ruang tengkorak, berdasarkan hipotesis Monro-Kellie : merupakan jumlah volume darah intracranial, jaringan otak, cairan otak yang bersifat tetap, karena berada dalam ruang tengkorak yang bersifat kaku, tekanan tersebut menjalar ke setiap sisi ruangan di dalam tengkorak (UNC Hospital dan Retnaningsih, 2008).

Ada beberapa kontroversi yang terjadi yang berkaitan dengan penatalaksanaan cedera kepala khususnya yang mengalami TIK, salah satunya yaitu posisi kepala pasien datar sejajar dengan tubuh, jika posisi datar yang di anjurkan, mungkin sebagai indikasinya adalah untuk monitoring TIK. Tipe monitoring TIK yang tersedia adalah screws, cannuls, fiberoptic probes. Elevasi kepala dilakukan untuk menurunkan TIK. Beberapa alasan bahwa elevasi kepala akan menurunkan TIK, tetapi berpengaruh juga terhadap penurunan CPP. Alasan lain bahwa posisi horizontal akan meningkatkan CPP. Maka dari itu posisi yang disarankan adalah elevasi kepala antara 15° – 30°, yang mana penurunan ICP tanpa menurunkan CPP (Retnaningsih, 2008).

Kita ketahui bahwa peningkatan TIK merupakan kasus kegawat daruratan yang mana memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, hal ini disebabkan karena tekanan meninggi sehingga subtansi otak akan tertekan, dan hal tersebut akan berakibat fatal dan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu seorang perawat harus memahami benar tentang cara penatalaksanaan pasien cedera kepala dengan cepat dan tepat

KESIMPULAN 

Penatalaksanaan cedera kepala bertujuan untuk mempertahankan fisiologi umum tubuh, tindakan segera akibat cedera primer, pencegahan atau meminimalkan cedera kapala sekunder dengan tindakan peningkatan tekanan intrakranial, mempertahankan tekanan perfusi serebral yang adekuat, disamping itu pada kasus cedera kepala, kerusakan otak dapat terjadi cedera primer dan cedera sekunder.

Penatalaksanaan pasien yang mengalami cedera kepala mempunyai beberapa prinsip dasar, yaitu: Monitor tekanan intrakranial beserta penurunannya, elevasi kepala 30°, terapi medika mentosa untuk penurunan odema otak, penurunan aktivitas otak, menurunkan hantaran oxygen dengan induksi koma, pembedahan dekompresi, dan terapi profilaksi terhadap kejang.

Ada beberapa kontrovesi yang terjadi yang berkaitan dengan penatalaksanaan cedera kepala khususnya yang mengalami TIK, salah satunya yaitu posisi kepala pasien datar sejajar dengan tubuh, jika posisi datar yang di anjurkan, mungkin sebagai indikasinya adalah untuk monitoring TIK. Tetapi posisi yang disarankan adalah elevasi kepala antara 15° – 30°, yang mana penurunan ICP tanpa menurunkan CPP (Retnaningsih, 2008).






DAFTAR PUSTAKA 
  • Chris Winkelman. Neurological Critical Care. American journal Of Critical. care. Nopember 2000-volume 9 Number 6 
  • Gennarelli TA, Meaney DF. Mechanism of Primary Head Injury. Dalam: Neurosurgery 2nd edition. New York : McGraw Hill;2006. 
  • Long. B.C and Phip.W.J, 1996. Essentials of Medical Nursing Mosby Company, Louis, Toronto
  • Lyna Soertidewi, 2012. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranioserebral. CDK-193/ vol. 39 no. 5, th. 2012 
  • Markam. S, 1992. Patofisiologi, Penuntun Neurologi. Edisi 2 Penerbit Bina Rupa, Jkarta. 
  • Patricia A. Potter. R.N, MSN. Pengkajian Kesehatan, Edisi 3 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 
  • Retnaningsih. 2008. Cedera Kepala Traumatik. Neurologi update. Bagian 3. 12-Peb-2013, 01:48:51 WIB - [www.kabarindonesia.com] 
  • UNC Hospital. Intracranial Pressure Monitoring. Diambil 14 Februari 2013. www. intracranial pressure monitoring.
  • Vincent Thamburaj. Intracranial Pressure. Diambil 14 Februari 2013. http://www.Rhamburaj.com/assited_ventilation-in-neurosurgery.htm.