INFARK MIOKARD VENTRIKEL KANAN
By: Ns. Sulistyono, M.Kep
Infark miokard biasanya
disebabkan oleh trombus arteri koroner.Terjadinya trombus disebabkan oleh
ruptur plak yang kemudian diikuti oleh pembentukan trombus dan trombosit.Lokasi
dan luasnya miokard infark tergantung pada arteri yang oklusi dan aliran darah
kolateral. Oklusi arteri koronaria bisa juga tidak sampai menimbulkan infark
bila daerah yang diperdarahi arteri yang oklusi tersebut mendapat pasok oleh
kolateral pembuluh arteri lainnya. Namun demikian penderita dengan IMA
hendaknya segera mendapat pertolongan oleh karena angka kematian sangat
tinggi,terutama dalam jamjam
pertama serangan.Adapun faktor-faktor yang
mempermudah terjadinya IMA antara lain:merokok,hipertensi,obesitas. Di
Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir IMA lebih sering ditemukan, apalagi
dengan adanya fasilitas diagnostic dan unit-unit perawatan penyakit
jantung koroner yang semakin tersebar
merata.Kemajuan dalam pengobatan IMA di unit perawatan jantung koroner intensif
berhasil menurunkan angka kematian IMA. Nyeri dada
ditemukan lebih 6 juta kunjungan ke UGD setiap tahun di USA, diantaranya hampir
800.000 berakhir dengan diagnosa MI dan 1,5 juta diagnosa angina tidak stabil
(UA/unstable angina) atau ST elevasi infark niokardium non-elevasi ST (NSTEMI/non
ST elevation myocardial infaction). Penyakit jantung koronaria (CHD) merupakan
penyebab kematian yang utama pada orang dewasa di USA. Iskhemi miokardium
disebabkan penyempitan arteri koronaria yang progresif hingga terjadi ruptur
plakat dan pembentukan trombus.
KASUS.
Seorang pria usia 58
th datang di unit gawat darurat dengan keluhan nyeri dada. Nyeri mulai
timbul 1 jam yang lalu, selama makan pagi, dan dilukiskan seperti tertekan,
tumpul dan berat. Nyeri terletak di lokasi substernal menjalar ke kedua bahu
dan disertai sesak nafas. Pasien mengalami muntah sekali. Istrinya menambahkan
bahwa ia sangat berkeringat disaat nyeri mulai timbul. Pasien menderita DM dan
hipertensi dan mengkonsumsi hidroclorotiazide dan glyburide. TD 150/100 mmHg, N
95 x/mnt, R 20x/mnt, S 37,3°C dan saturasi O2 dengan pulse oximetri adalah 98%.
Pada pemeriksaan fisik
keadaan umum tampak sakit berat, dengan kesadaran somnolen. Pasen terlihat
gemuk/overweight (berat dan tinggi tak diukur), tekanan darahnya 70/40
mmHg, nadi 36 kali/menit, irreguler dengan pengisian lemah. Pernafasan 20 kali/
menit, Pada pemeriksaan kepala konjungtiva tampak pucat, sklera tidak ikterik.
PCH (-), SPO (+). JVP 5 + 4 cm, tak ada pembesaran kelenjar getah bening.Toraks
bentuk dan geraknya simetris. Ictus cordis di sela iga V kiri, di garis mid klavikula
kiri, tidak kuat angkat. Pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal. Pada
pemeriksaan abdomen teraba hepar 4 cm di bawah arkus kosta dan prosesus
xyphoideus, tumpul, kenyal dan rata, selebihnya normal. Ekstremitas: kedua
tungkai tidak udema, tetapi dingin di akral dengan pulsasi nadi yang lemah dan
kukunya agak sianosis.
Elektrokardiogram memperlihatkan
irama sinus dengan blok AV derajat III, QRS 35 kali/ menit, ST elevasi 1-2 mm
di II,III, aVF, V3R, V4R, Qs di II,III, aVF, V3R, V4R, dengan VES unifokal
infrekuen. Foto toraks PA memperlihatkan jantung sedikit membesar, dengan
dugaan udem paru ringan. Diagnosis kerja yang ditegakkan saat itu: syok
kardiogenik pada Infark miokard akut ST elevasi di dinding inferior dan infark
ventrikel kanan, dengan komplikasi blok AV derajat 3. DM tipe 2 (diagnosis
banding hiperglikemi reaktif ), chronic kidney disease (CKD) akibat nefropati
DM, dan anemia. Pasen kemudian diberi
oksigen nasal 3 liter/menit dan diinfus NaCl 0,9 % sebanyak 1 liter – sesuai
respons hemodinamik, heparin 60 U/KgBB iv bolus dilanjutkan 12 U/KgBB/jam,
Aspilet 80 mg/ 12 jam per-oral, Insulin drips 1 u/jam (dosis titrasi sampai
target GD 200 mg/dl), sulfas atropine i.v. 0.25 mg. Direncanakan pemasangan TPM
dan CT scan untuk menyingkirkan stroke. Diberikan diet jantung I, diet DM 1700
kal/hari dengan KH 60 % dan dilakukan pemeriksaan gula tiap 2 jam, K tiap 4
jam, urine lengkap, PT dan APTT. Enam jam setelah upaya menstabilkan kondisi
pasen di UGD, dilakukan CT scan dan pemasangan pacu jantung temporer,
angiografi koroner dengan standby PTCA. Delapan jam sejak pasien datang
di UGD pacu jantung terpasang dengan laju pacing 80 kali permenit,
sensitivitas 1MV, output 1MA. Angiografi koroner memperlihatkan oklusi
total di bagian proksimal RCA sebelum percabangan arteri SA Node, dan stenosis
90% di D1, tekanan diastolik akhir ventrikel kiri (LVEDP 10 mmHg). Dilakukan
dilatasi pada RCA tanpa dipasang stent, residual stenosis 10%, aliran TIMI 3.
Selanjutnya pasien dirawat di ICCU, dengan terapi: Heparin selama 5 hari,
Dobutamin 10 ug/ kgBB/menit i.v, ticlopidin 2 x 1 tablet selama 7 hari,
Tromboaspilet 100 mg/12 jam, antibiotik Ceftriaxone 2 gr per 12 jam iv, rencana
pemberian ISDN dan amlodipin ditunda mengingat tekanan darah pasien terlalu
rendah.
ANALISIS
A.
Diagnosis Infark Ventrikel Kanan
Infark Miokard adalah
suatu keadaan infark/nekrose otot jantung karena kurangnya suplai darah dan
oksigen pada myokard (ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen myokard).
Infark RV biasanya menyertai
30-50% infark inferior dan 10% infark anterior LV.
Seseorang dikatakan mengalami serangan IMA, jika
didapati 2 dari 3 kriteria berikut :
- Nyeri dada khas infark. Nyeri dada akibat IMA
biasanya berlangsung lebih dari 20 menit, retrosternal, bisa di tengah atau di
dada kiri, menjalar ke rahang, punggung atau lengan kiri.
Rasa nyeri ini dapat digambarkan oleh pasen sebagai
rasa tertekan benda berat, diremas-remas, rasa terbakar atau ditusuk-tusuk.
Kadangkala rasa nyeri ini terasa di daerah epigastrium, sehingga sering disalah
interpretasikan sebagai dispepsia. Keluhan nyeri dada seringkali diikuti
keringat dingin, rasa mual dan muntah, rasa lemas, pusing, rasa melayang,
bahkan pingsan karena rangsang parasimpatis. Jika gejala-gejala ini timbul tiba-tiba
dengan intensitas yang tinggi, kecurigaan terhadap IMA harus pikirkan. Pada
pasen yang sudah diketahui menderita penyakit jantung koroner, peningkatan
kualitas nyeri dada merupakan indikasi adanya plak ateroma yang tidak stabil
yang dapat memburuk menjadi IMA. Pada pasen DM, usia lanjut, dan perempuan,
keluhan mungkin tidak khas, seperti sesak napas, nyeri ulu hati, mual, muntah
dan nyeri dada atipikal.
·
Perubahan EKG. Perubahan EKG yang
terjadi berupa perubahan segmen ST (baik elevasi ataupun depresi) dengan cut
off point > 0,2 mV pada infark dinding anterior, septal dan lateral,
atau > 0,1 mV pada infark dinding inferior, posterior dan RV; minimal pada 2
lead yang berkaitan)
·
Kenaikan ensim jantung. Kenaikan enzim
jantung lebih dari nilai normal (CKMB > 2 kali nilai normal; Troponin T >
0,1).
Pasien yang kami laporkan dikatakan mengalami
serangan infark, karena: 1) ada nyeri ulu hati, keringat dingin, mual muntah,
2) EKG memperlihatkan elevasi ST 1-2 mm di II,III, aVF, V3R, V4R; Qs di II,III,
aVF, V3R, V4R, disertai komplikasi gangguan irama, yaitu blok AV total, serta
3) kenaikkan enzim jantung melebihi nilai normal (CKMB : 129,1 U/L, dan
Troponin T 2,0 ng/m). Infark RV dicurigai pada pasen dengan IMA inferior jika
ditemukan trias: hipotensi, tidak ada ronki pada paru
dan tekanan vena jugularis meningkat. Walaupun tanda-tanda ini tidak
sensitif (<35%) namun cukup spesifik.2,4-6 Peningkatan vena jugularis
atau adanya tanda Kussmaul (distensi vena jugularis pada saat
inspirasi) merupakan tanda yang sensitif dan spesifik adanya infark RV
pada penderita dengan IMA inferior. Tanda ini mencerminkan peningkatan
tekanan pengisian ventrikel kanan. Namun seringkali tandatanda ini
tidak ditemukan pada saat deplesi cairan, dan baru terlihat setelah
pemberian cairan yang adekuat. Adanya perubahan EKG infark pada sadapan
dada kanan (V4R) juga sangat mendukung diagnosis. Sementara
manifestasi infark RV sangat bervariasi dari asimptomatik sampai syok
kardiogenik. Ekokardiografi sangat membantu diagnosis infark RV
pada kondisi klinis dan EKG yang tidak mendukung. Ciri khasnya: dilatasi
RV dengan gerak asinergi mulai hipokinetik sampai akinetik, dan gerakan
interatrial dan interventrikular yang abnormal, akinesis atau diskinesis
segmen dinding, dan menurunnya fungsi sistolik serta dapat pula
ditemukan adanya pirau dari kanan ke kiri melalui patent foramen
ovale. Temuan ini harus dicurigai jika terdapat hipoksia yang
persisten dan tidak memberikan respon baik dengan pemberian oksigen pada
penderita dengan infark RV. Atrium kanan juga dilatasi disertai regurgitasi
katup trikuspid akibat dilatasi annulus trikuspid.
B.
Etiologi
1. Coronary
arteri disease: atherosclerosis, arteritis, trauma pada koroner, penyempitan
arteri koroner oleh karena spasme, desecting aorta dan arteri koroner.
2. Coronary
arteri emboli: infectife endokarditis, cardiac myxoma, cardio pulmonal bypass
surgery, arteriography koroner.
3. Kelainan
konginetal: anomali arteri koronaria
4. Inbalance
oksigen supplay & demand myokard thyrotoxicosis, hypotensi kronis,
keracunan CO, aorta stenosis,insuffisensii.
5. Gangguan
hematologi: anemia, polycythemia vera, hypercoagulabity, trombosis,
trombocytosis
Sedangkan
faktor-faktor yang mempermudah terjadinya IMA antara lain: merokok, hipertensi,
obesitas, hiperkolesterolemia, Diabetes Mellitus, kepribadian yang neurotik.
C.
Diagnosis
1. Anamnesis
Ø Chest pain
secara mendadak atau hilang timbul, nyeri didaerah anterior/precordial/sub
sternal yang menjalar ke lengan, wajah, rahang, leher, punggung dan
epigastrium. Nyeri tdk hilang walaupun dibuat istirahat, merubah posisi, nafas dalam
Ø Disretmia,
hypotensi, shock, mual/muntah, gagal jantung
Ø Suhu tubuh
naik, sesak nafas, pucat, diaphoresis, paroximal nocturnal dyspnea (PND)
Ø Klien
tidur dengan lebih satu bantal
Ø Klien
tampak cemas,
Adanya
nyeri dada yang lamanya lebih dari 30 menit di daerah prekordial,retrosternal
dan menjalar ke lengan kiri,lengan kanan dan ke belakang interskapuler.Rasa
nyeri seperti dicekam,diremas-remas,tertindih benda padat,tertusuk pisau atau
seperti terbakar.Kadang-kadang rasa nyeri tidak ada dan penderita hanya
mengeluh lemah,banyak keringat, pusing, palpitasi, dan perasaan akan mati.
. Pemeriksaan
fisik
·
Catat TB, BB, lethargi, warna
kulit,
·
Respirasi: pola nafas, freq,
adanya rales/ronchi/whezing
·
Jantung: bunyi jantung, murmur,
friction rub, dysritmia, TD, distensi vena juguler, nadi perifer.
·
Cek toleransi klien terhadap
aktivitas, hepatojuguler refluk, clubing finger
·
Penderita nampak sakit,muka
pucat, kulit basah dan dingin.
3 . EKG
·
Segmen ST elevasi abnormal
menunjukkan injuri myocard
·
Gelombang T inversi menunjukan
adanya iskhemic myocard
·
Q pathologis menunjukan adanya
infark/nekrosis myocard
4 . Pemeriksaan
laboratorium
Ø
SGOT > 18 u/L
Ø
CPK > 50 u/L
Ø
CK-MB > 10u/L
Ø
LDH > 240 u/L
Renal function test: peningkatan kadar BUN dan
Creatinine karena penurunan glomerulo filtrasi rate akibat penurunan cardiac
output
5 . Radiologi
Ø Thorax
rontgen: untuk melihat cardiomegali (dilatasi sekunder) karena CHF
Ø Echocardiogram:
untuk melihat struktur dan fungsi abnormal otot dan katub jantung
Ø Radioactive
isotope: untuk melihat area ischemic dan non perfusi
D.
Prognosis Infark Ventrikel Kanan
Adanya iskemia RV yang
terbukti melalui kriteria noninvasif berhubungan secara bermakna dengan peningkatan
morbiditas dan mortalitas jangka pendek maupun jangka panjang.4,7,8 Perbaikan
klinis maupun hemodinamik dapat terjadi pada pasen dengan disfungsi RV setelah beberapa
minggu atau bulan. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan perbaikan disfungsi
ventrikel kiri, sehingga dapat mengurangi afterload ventrikel kanan.4 Adanya
infark RV yang menyertai infark inferior berhubungan dengan peningkatan angka
mortalitas secara signifikan 35-40%.4 Penelitian Zehender dkk, mendapatkan peningkatan
angka mortalitas infark inferior yang disertai infark RV sebesar 36%
dibandingkan 6% bila tanpa infark RV.7 Penelitian serupa oleh Bueno dkk. pada
kasus yang berusia >65 tahun mendapati case fatality rate lebih
tinggi pada pasen dengan infark RV, yakni 47% dibandingkan 10% bila tanpa infark
RV. Ia juga mendapatkan perbedaan kejadian komplikasi lain, yaitu syok
kardiogenik (52% vs 5%), blok AV komplit (43% vs 9%), dan ruptur septum
interventrikular (9% vs 0%). Sekitar 80 - 90% pasien yang mengalami syok
kardiogenik meninggal meskipun telah diberi terapi medis yang agresif.
E. Regulasi gula darah
pada pasien dengan infark RV
Untuk membedakan apakah
suatu hiperglikemia akibat proses reaktif/stres ataukah pasen penderita
diabetes mellitus (DM), digunakan beberapa pedomaan, yaitu:
a. Anamnesis untuk
mencari tanda dan gejala DM (sering haus, sering lapar, sering kencing dan penurunan
berat badan; serta baal-baal, kesemutan, gatal-gatal, impotensi, penglihatan
menurun dan sebagainya)
b. Pemeriksaan fisik adanya temuan komplikasi DM (retinopati
diabetika, ulkus/ gangren diabetik foot, sellulitis), dapat juga dilakukan
pemeriksaan kadar HbA1c.5
c. Stress
hyperglycemia yang seringkali terjadi pada pasen kritis/sakit berat (critically
ill patients). Reaksi ini tidak hanya terjadi pada non DM, tetapi juga pada
pasen DM. Pada pasen ini, tak dapat dilakukan anamnesis tentang riwayat DM,
allo anamnesis pun tak jelas. Namun dari data yang ada, pasen diketahui sering mengeluh
lemah badan sejak sebelas tahun silam, kadar gula darah 519 mg/dL, pada urine
didapatkan proteinuria (+++), Reduksi (++++)/glukosuria (+++) dan keton (-).
Kemungkinan besar pasen memang sudah mengidap DM sejak lama dan tak terkontrol baik,
disertai komplikasi nefropati DM. Pemeriksaan kadar HbA1c semestinya dapat
membantu memastikan hal ini. Pasen ini kemudian mengalami komplikasi makrovaskuler
berupa infark miokard inferior dan RV disertai penurunan curah jantung yang
berat, berakibat keadaan yang disebut stress hiperglikemia. Dengan adanya
kadar gula darah sewaktu yang demikian tinggi pada pasen ini, mungkin pasen
mengidap DM tipe 2 dengan stress hiperglikemia
F. Mekanisme Terjadinya
Stress Hyperglycemia
Stress hyperglycemia sangat berhubungan
dengan respon metabolik terhadap stress atau injury (trauma), yang
merupakan interaksi kompleks melibatkan beberapa mediator, termasuk sistem neurologi,
hormon, dan messenger sitokin. Kondisi yang memicu respon metabolik ini
antara lain trauma, sepsis, atau pembedahan. Sebenarnya respons ini merupakan
respon fisiologis yang karakteristik, dalam upaya mempertahankan kehidupan sel.
Secara sederhana respon metabolik yang terjadi terbagi atas respon lokal dan
sistemik. Respon lokal timbul akibat reaksi neurohormonal, guna meningkatkan
aktifitas metabolik dan mekanisme lokal tingkat seluler. Sedangkan respon sistemik
dimanifestasikan sebagai peningkatan “counter-regulatory hormones”
seperti kortisol, epinefrin, dan glukagon, yang akan berkolaborasi dalam
kaskade sitokin. Jadi, stress hyperglycemia merupakan manifestasi yang
umum terjadi pada pasen kritis.
Faktor-faktor yang
berperan meliputi:
·
Peningkatan sekresi hormon-hormon counterregulatory,
seperti: katekolamine, kortisol, growth hormone, glukagon
·
Terjadinya resistensi insulin akibat meningkatnya kadar
berbagai sitokin (I-CAM1, V-CAM)
·
Defisiensi insulin relatif
Faktor iatrogenik,
karena pemberian obat-obatan tertentu, seperti: katekolamin, vasopresor,
steroid, cairan infus yang mengandung dextrose, serta nutrisi enteral atau
parenteral. Secara klasik respon terhadap stress hiperglikemi digambarkan
melalui dua phase; yaitu fase ebb dan fase akut (flow
phase). Phase ebb terjadi 24 hingga 48 jam setelah injuri. Selama periode
yang singkat ini terjadi peningkatan aktifitas saraf simpatis dan peningkatan aksis
hipofisis-hypothalamus. Sedangkan fase kedua yang disebut fase akut atau flow
phase, terjadi hipermetabolisme, katabolisme dan peningkatan konsumsi
oksigen. Mekanisme ini terjadi karena peran mediator-mediator seperti sitokin,
hormon, dan rangsangan pada saraf afferent dari tempat injuri. Glukosa diperlukan
dalam metabolik aktif pada sistem saraf pusat, luka dan sistem immunologi. Asam
lemak merupakan cadangan energi yang tersedia untuk jantung, otot, hati dan
beberapa jaringan lainnya. Meskipun sebagian asam lemak ini digunakan untuk keperluan
glukoneogenesis, sebagian besar diperuntukkan proses sintesis protein pada fase
akut, sebagai termogenesis dan precussor dalam perbaikan jaringan. Dalam
proses pemulihan hal ini juga terjadi, diawali penurunan proses metabolik,
melengkapi penurunan cadangan energi tubuh, dan mengatasi penurunan berat
badan. Katabolik, proses metabolik, pengaturan cairan dan sensitifitas insulin
semuanya akan kembali normal ke tingkat sebelum injury dan homeostatis baru.
Dalam keadaan ini proses anabolisme menjadi lebih dominan.
G. Konsekuensi akibat
Stress Hyperglycemia
Konsekuensi klinis stress
hyperglycemia pada pasen kritis bervariasi, salah satu yang patut
diperhitungkan adalah terjadinya gangguan imunitas. Hal ini berkaitan dengan
penurunan kemampuan-kemampuan: adhesi neutrofil, daya kemotaksis, fagositosis
(berhubungan dengan defek intrinsik dari sel-sel PMN), dan kemampuan membunuh
mikroba oleh enzim-enzim lisosomal dari sel PMN. Normalisasi kadar glukosa darah
dalam 48 jam akan meningkatkan kembali kemampuan membunuh mikroba. Selain itu, glikosilasi
immunoglobulin mengakibatkan terganggunya fungsi imunitas.Selama stress akut,
katekolamin yang berlebih akan menghambat sel â pankreas dalam melepas insulin
dan meningkatkan lipolisis sekunder; kedua hal ini menyebabkan hiperglikemia
baik pada pasen DM atau non DM. Hiperglikemia atau defisiensi insulin relatif
(atau kedua-duanya) yang terjadi selama kondisi kritis dapat menjadi
predisposisi timbulnya komplikasi baik secara langsung maupun tak langsung,
berupa kejadian infeksi berat, polineuropati, multiple organ failure,
dan kematian. Sebagaimana disebutkan terdahulu, pasen ini sudah lama mengidap
DM disertai komplikasi mikrovaskular berupa nefropati diabetika12 dan komplikasi
makrovaskuler berupa infark miokard. Dan akibat infark tersebut serta
komplikasinya, maka timbul suatu keadaan yang disebut stress hiperglikemia,
yang menyebabkan gula darah naik tinggi (sampai 519 mg/dl). Untuk menurunkan
gula darah pada pasien ini sebaiknya diberikan insulin. Pada DIGAMI study dengan
memberikan infus 500 ml 5 % glukosa dengan 80 IU insulin solubel (≈ 1 IU/6 ml).
Dimulai dengan dosis 30 ml /jam.Kemudian diperiksa gula darah (GD) setelah 1
jam. Laju infus diatur sesuai dengan protokol dan target kadar gula darah
sewaktu 127-199 mg/dL. Dilanjutkan dengan pemberian insulin subcutan (SC) tiga
kali sebelum makan, digabung dengan mediumlong insulin pada malam hari.
Pada pasien ini regulasi
gula darah dengan insulin dimulai 4 jam setelah masuk emergensi, jadi agak lambat.
Sebaiknya dimulai lebih awal (setelah 1 jam rehidrasi) dan disertai dengan
pemeriksaan GDS yang lebih sering (tiap jam). Pada pasien ini GDS dapat terkontrol
dalam 24 jam, ini artinya kontrol GD cukup baik.
UPAYA MENGATASI KESENJANGAN ANTARA CASE DENGAN
KEILMUN YANG ADA
Untuk mengatasi adanya
kesenjangan antara penerapan tindakan di lapangan dengan keilmuan yang terbaru
yaitu diantaranya dengan:
·
Secara kontinu dan berkala diadakan
pelatihan/seminar berkaitan dengan update ilmu
·
Antara orang klinik dengan orang pendidikan harus
sering duduk bersama dalam rangka persamaan persepsi.
·
Secara berkala melakukan evaluasi terhadap standart
operational prosedure yang mana disesuaikan dengan keilmuan terbaru.
·
Pihak managemen rumah sakit terus berupaya
memotivasi dan mefasilitasi para staft untuk mau mengikuti perkembangan ilmu.
KESIMPULAN
Telah dilaporkan kasus infark miokard inferior dan ventrikel
kanan pada pasen diabetes mellitus tipe 2 yang tidak terkontrol baik. Penyulit
yang terjadi berupa blok AV total dan curah jantung rendah kurang cepat ditangani,
karena pasen terlambat datang, dan ketidak siapan tatalaksana reperfusi dini
serta sarana pendukung seperti IABP, pemantau curah jantung. Kasus seperti ini
merupakan kasus sulit yang angka kematiannya tinggi.
Saran.
1.
Istitusi pendidikan dan rumah sakit
·
Terus update keilmuan keperawatan
·
Secara berkala mengadakan acar seminar/workshop
·
Bekerja sama dengan klinik untuk mengadakan
pelatihan
·
Duduk bersama dengan orang-orang klinik/institusi
pendidikan untuK persamaan persepsi
2.
Profesi keperawatan
·
Secara terus menerus mengikuti perkembangan ilmu keperawatan
·
Secara aktif mengikuti acara-acara
seminar/workshop/pelatihan
·
Secara terus menerus berusaha meningkatkan skill
individu dalam melakukan tindakan keperawatan
DAFTAR PUSTAKA
Anderson
JL, Adam CD, Antmant E, dkk. ACC/AHA 2007guidelines for the management of
patient with unstable angina/non Stelevation myocardialinfarktion, circulation
2007;116; e148-304
Antmant
EM, Hand M, Amstrong PW, dkk. 2007 fokused update of the ACC/AHA 2004
guidenelis for the management of patient with ST elevation myocardial infarction, Cirkulation.
2008; 117;296-329
Antman EM, Braunwald
E. Acute Myocardial Infarction. In: Braunwald E. editor. Heart Disease, A
textbook of cardiovascular medicine. 6th ed. Philadelphia: WB Saunders Company,
2001: 1114-271
Boedi
Warsono;Diagnostik dan Pengobatan Penyakit Ja ntung:Lektor Madya Fakultas
kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. 1984,hal 93-100
Elliott
M.Antman,Eugene Braunwald;Acute Myocardial Infarction;Harrison’s Principles of
Medicine 15th edition,2005,page 1-17.
Lily
Ismudiati Rilantono,dkk.;Buku Ajar Kardiologi;Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia,2004,hal 173-181.
Panju AA.
Hemmelgarn SR. Is this patient having a myocardial infarktion. JAMA. 1998;280,
1256-63
Pramonohadi
Prabowo;Penyakit Jantung Koroner,Lab/UPF Ilmu Penyakit Jantung;FK Unair RSUD
dr.Soetomo,Surabaya,1994,hal 33-36.
Prof.dr.H.M.Sjaifoellah
Noer,dkk.;Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I,Edisi ketiga;Balai Penerbit FK
UI Jakarta ,1996,Hal 1098-1108.
Robert E. O'Connor,at
all. Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular
Care. Part 10: Acute Coronary Syndromes : 2010 American Heart Association. Circulation 2010, 122:S787-S817