Jumat, 10 Agustus 2012

KEGIATAN BIMBINGAN KLINIK KEPERAWATAN DENGAN METODE MENTORSHIP


KEGIATAN BIMBINGAN KLINIK KEPERAWATAN
DENGAN METODE MENTORSHIP

A.       Latar belakang.
Untuk menghasilkan perawat profesional, harus melewati dua tahap pendidikan yaitu pendidikan akademik dan tahap profesi, kedua tahap tersebut merupakan tahapan pendidikan yang terintegrasi sehingga tidak dapat dipisahkan. Salah satu cara untuk pengembangan dan pengendalian mutu keperawatan adalah dengan cara mengembangkan lahan praktek keperawatan disertai dengan adanya pembinaan masyarakat profesional keperawatan untuk melaksanakan pengalaman belajar di lapangan dengan benar bagi peserta didik (mentee). Tanggungjawab masyarakat profesional keperawatan dalam melaksanakan keperawatan profesional, dengan sistem nilai dan tradisi profesionalnya adalah hal yang mutlak dalam pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesional. Lahan praktek keperawatan merupakan komponen pendidikan yang perlu mendapat perhatian bagi para pengelola lahan praktek.  Maka dengan adanya lahan praktek dan komponennya yang baik akan dapat dikembangkan pengalaman belajar klinik dengan benar.
Perubahan sikap dan keterampilan profesional dengan melalui pengalaman klinik yang diselenggarakan dengan benar dalam tatanan pelayanan keperawatan profesional sangat menentukan kualitas dan kondisi perawat dimasa mendatang, selain itu juga tergantung dari kita (yang sudah menjadi perawat) untuk menyiapkan peserta didik keperawatan yang praktek di klinik. Tanpa disadari ternyata perawat kurang memperhatikan proses bimbingan terhadap peserta didik baik tingkat DIII maupun Ners muda. Seakan fokus kita “hanya” mengurus pekerjaan kita sehari-hari saja. Ada anggapan bahwa urusan pendidikan dan bimbingan kepada peserta didik merupakan tanggungjawab institusi pendidikan. Sehingga perawat klinik merasa “setengah-setengah” dalam melakukan bimbingan dan yang dirasakan oleh peserta didik (mentee) praktek adalah kesan “disuruh” melakukan sesuatu pekerjaan. Kenyataannya pembimbing dari institusi pendidikan frekwensi kehadirannya di klinik bisa dikatakan jarang/bahkan tidak kelihatan atau perawat yang ada di bangsal banyak disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing sehingga tidak sempat melakukan bimbingan kepada mentee. Oleh karena itu untuk menjawab dan mengatasi semua permasalahan tersebut diatas maka perlu dilaksanakan bimbingan klinik dengan menggunakan metode mentorship.
B.       Tujuan penulisan.
Tujuan umum
masyarakat profesional keperawatan mempunyai tanggung jawab bersama dalam menyiapkan peserta didik keperawatan menjadi perawat yang profesional.


Tujuan khusus
Meningkatkan pemahamann tentang:
a.      Mentorship
b.      Peran dan tanggungjawab mentor
c.       Peran dan tanggungjawab lahan praktek
d.      Tanggung jawab mentee
e.       Penilaian
f.        Keuntungan dan kerugian penggunaan pembelajaran klinik metode mentorship
C.       Tinjauan literatur
Pendidikan keperawatan terbagi menjadi dua tahap yaitu tahap akademik dan tahap profesi. Disiplin akademik lebih menekankan pada pengetahuan dan teori yang bersifat deskriptif, sedangkan disiplin profesional diarahkan pada tujuan praktis, sehingga menghasilkan teori preskriptif dan deskriptif. Disiplin profesi hanya akan didapat di lingkungan klinis karena lingkungan klinis merupakan lingkungan multiguna yang dinamik sebagai tempat pencapaian berbagai kompetensi praktik klinis di dalam kurikulum profesional.
Tujuan dari praktik klinis dapat dicapai di lingkungan manapun yang melibatkan peserta didik di dalam praktik keperawatan. Sebagai contoh untuk kasus-kasus jiwa biasanya bekerjasama dengan klinik jiwa atau rumah sakit jiwa, karena selain memiliki pasien dalam jumlah banyak, kasusnya lebih spesifik. Sehingga lebih mudah untuk pencapaian kompetensi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk kasus-kasus yang biasa terjadi di keluarga dan masyarakat/komunitas yang terkait dengan pelayanan primer menggunakan puskesmas sebagai lahan praktik.
Praktik klinik diharapkan bukan hanya sekedar untuk menerapkan teori ke dalam praktik profesional. Melalui praktik klinik, peserta didik diharapkan lebih aktif dalam setiap tindakan sehingga akan menjadi orang yang cekatan dalam menggunakan teori tindakan. Lebih jauh lagi, praktik keperawatan profesional mencakup banyak hal termasuk diantaranya pengambilan keputusan klinis yang mengintegrasikan teori, hukum, pengetahuan, prinsip dan pemakaian keterampilan khusus. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana perawat menerima klien sebagai makhluk hidup yang utuh, unik dan mandiri dengan hak-haknya yang tidak dapat dipisahkan.
Selama praktik klinis, peserta didik (mentee) dapat bereksperimen berdasarkan teori, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan bentuk keperawatan baru. Adanya rasa takut berbuat salah hanya akan membatasi perkembangan dan keinginan mentee untuk bereksperimen dalam perawatan. Kondisi ini berdampak pada minimnya pengalaman klinik mentee. Mentor adakalanya merasa takut seandainya mentee berbuat kesalahan, sehingga sering menuntut hal yang tidak realistik pada mentee. Hal ini berdampak kepada kompetensi tertentu yang mungkin tidak tercapai selama proses pembelajaran.
1.      Definisi mentoring
·        Pasangan intens dari orang yang lebih terampil/berpengalaman dengan orang ketrampilan/pengalaman sedikit, dengan tujuan yang disepakati oleh orang yang mempunyai pengalaman lebih sedikit untuk menambah dan mengembangkan kompetensi yang spesifik. (M Murray and M Owen, ‘Beyond the Myths of Mentoring: How to facilitate an Effective Mentoring Program’, Jossey-Bass, San Francisco 1991).
·        Hubungan pembelajaran dan konseling antara orang yang berpengalaman yang membagi keahlian professional dengan orang yang lebih sedikit pengalaman untuk mengembangkan ketrampilan dan kemampuan dari bagian yang kurang pengalaman. (Treasury Board of Canada)
Dari definisi tersebut diatas bisa disimpulkan bahwa mentoring adalah:
·        Support (dukungan)
·        Encouragement (memberi semangat)
·        Listening (mendengar)
·        Facilitation of Self-Reliance (memfasilitasi)
·        Mentoring bukan “Evaluation”
Jadi seorang mentor harus mempunyai pengetahuan yang cukup untuk lebih banyak memberikan saran serta mereka juga butuh “ekstra skill-set” seputar proses mentorship untuk memastikan peserta didik (mentee) mendapatkan keuntungan yang maksimum.
2.      Peran mentor.
Sebagai mentor diperlukan untuk memberikan dukungan/bimbingan pada mentee, diantaranya memberikan kesempatan untuk:
·        Mengaplikasikan teori.
·        Melakukan pengkajian, evaluasi dan memberikan umpan balik bersifat membangun
·        Memudahkan pemantulan pada praktek, kinerja dan pengalaman yang dimiliki.
Seorang mentor harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya:
·        Dapat berfungsi secara efektif .
·        Dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan.
·        Mempunyai tingkat pendidikan satu tingkat lebih tinggi dari mentee.
Seorang mentor juga dituntut mampu:
·        Membantu mentee untuk mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri.
·        Meningkatkan hubungan profesional dengan mentee.
Berdasarkan beberapa syarat tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang mentor  juga harus dapat berperan sebagai:
·        Figur “ayah/ibu”
·        Guru  
·        Role model
·        Konselor yang bisa di dekati
·         Pemberi saran yang dipercaya
·         Penantang
·        Pemberi semangat
·        Orang yang memberi nominasi
·         Orang yang lebih tua
·         Senior
·        Membetulkan
·        Hubungan hirarki
Gambaran “Pohon mentor”
Qualities of a mentor :
·        Pendengar yang baik
·        Dihargai sebagai profesional
·        Dapat di dekati
·        Dapat diakses
·        Tidak menghakimi
·        Antusias, memberi saran/mendorong
·        Bijaksana
·        Berpengalaman
·        Memberi tantangan, tapi tidak destruktif                                                                                                                                                                                                                                                                                                 
·        Etika, jujur, dan dapat dipercaya



Peran seorang mentor sangat penting
Seorang mentor dituntut harus mempunyai peran sebagai guru dan pengawas peserta didik selama di tempat/lahan praktek dan juga seorang Mentor mempunyai peran yang sangat penting dalam menjamin mutu pendidikan keperawatan.
Tiga Pendekatan Mentoring menurut Morton-Cooper & Palmer :
·        Classical mentoring, Sebagai pilihan, hubungan informal alamaiah. Kemampuan dalam emosional, organisasional, dan istilah profesional.
·        Contract mentoring, Sebagai tambahan , membuat hubungan organisasional biasanya berfokus pada fungsi spesifik yang membantu
·        Pseudomentoring, Mentoring dalam dalam “penampilan” , istilah yang singkat dan fokus yang jelas, misalnya dukungan dalam penempatan pencapaian yang spesifik, tujuan yang sempit.
Komponen Kesuksesan Hubungan Mentoring :
·        Komitmen untuk bertemu
·        Kerahasiaan
·        Penghargaan Mutual respect and benefit
·        Kemampuan untuk berdiskusi dan menyetujui :
o   Tujuan
o   Batasan
o   Durasi
o   Penggunaan yang tidak sesuai
·        Suport dari figur senior
·        Terpisah dari sistem lain
·        Partisipasi secara sukarela
·        Terencana secara formal, tetapi bisa diatur secara informal
·        Mentee memilih mentor
·        Training dan suport dari provider
·        Tidak melepaskan suport sumber lain
Tahap-tahap mentoring menurut Dalton/Thompson Career Development model:
o   Tahap 1 Dependence
Profesional baru masih tergantung pada mentor dan mengambil peran subordinat dimana memerlukan supervisi yang dekat
o   Tahap 2 Independence
Profesional dan mentor mengembangkan hubungan yang lebih seimbang. Profesional mengubah dari ” ke “kolega” dan membutuhkan sedikit supervisi.
o   Tahap 3 Supervising others
Menjadi mentor bagi dirinya sendiri dan mendemostrasikan kualitas profesional sebagai mentor
o   Tahap 4 Managing and supervising others
Menjadi responsibel untuk penampilan yang lain dikarakteristikan dengan merubah peran dari manajer atau supervisor menjadi resposibel terhadap klien peserta didik dan personel
3.      Tanggung Jawab
Tanggungjawab Mentor:
·        Mempersiapkan peserta didik untuk mampu melaksanakan peran perawat
·        Berbagi pengetahuan dengan pasien
·        Mempunyai kesempatan dan mendapatkan pengalaman belajar
·        Menyediakan waktu untuk memberikan umpan balik, memonitor dan mencatat setiap kemajuan yang didapat mentee.
·        Mengkaji kemampuan dan keselamatan pasien dan dilakukan dokumentasi
·        Memberikan umpan balik dengan tujuan membangun mentee dengan cara memberikan saran bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan
·        Melaporkan setiap insiden buruk kepada menager senior
·        Memberi kuliah dan mempraktekan cara mengorganisir permasalahan sesuai dengan kebutuhan
·        Selalu aktiv mengikuti perkembangan ilmu
·        Terlibat dalam pengawasan klinis mentee
Tanggungjawab Institusi Pendidikan Tinggi (Heis)
·        Mengerjakan collaboratively dengan pihak lahan praktek
·        Mendukung  mentor dan mentee tetap terjalin komunikasi.
·        Memastikan terjadi satu sistem komunikasi yang pada tempatnya
·        Mengomunikasikan perubahan apapun yang terjadi ke bagian program.
·        Melakukan satu sistem evaluasi yang efektif pada tempatnya.
Tanggungjawab Penyedia Lahan Praktek
·        Mempersiapkan  mentor sebaik-baiknya
·        Melakukan collaboratively dengan HEIs (pendidikan)
·        Menyediakan kesempatan belajar untuk mentee
·        Mengakui adanya kompleksitas dari peran mentor
·        Mengidentifikasi dan mendukung kebutuhan mentor
·        Mengevaluasi kinerja mentor
·        Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar dan mengajar
·        Memberikan motivasi pada mentee untuk berusaha berkembang.
NMC merekomendasikan secara normal seorang mentor tidak boleh membantu lebih dari tiga mentee (NMC, 2006a).
4.      Penilaian
Penilaian mentee secara terus menerus selama periode praktek sangat penting, hal ini dilakukan untuk mengetahui dan bagaimana perkembangan mentee tersebut mengalami kemajuan sesuai dengan tingkat pengetahuan yang diharapkan dan dilakukan pembahasan secara berkala, umpan balik dan dokumentasi sepanjang periode praktek. Penilaian dapat dilakukan secara formal atau informal. Ada beberapa hal yang harus dinilai diantaranya tingkat pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan untuk menerapkan teori dalam praktek, keterampilan, perilaku profesional juga harus dikaji termasuk sikap/etika, tugas kelompok, penampilan dan motivasi. Penilaian tersebut harus dilakukan seobyektif mungkin. Semua penilaian harus didokumentasikan pada buku dokumentasi mentee. R O Y SATU L C O L E G E O F N U R S AKU N G
Hasil penilaian dapat dipercaya kalau diberikan pada kesempatan terpisah dengan penilai yang lain. Stuart (2007) mengidentifikasi tiga emisi kunci:
1.      Konsistensi dari kinerja mentee : bagaimana konsisten adalah kinerjanya mentee.
2.      Konsistensi dari penilaian: akan di interpretasikan kinerja mentee dari satu keterampilan tertentu dapat dilakukan dengan cara yang sama di kesempatan yang berbeda.
3.      Konsistensi di antara penilaipenilai akan mensepakati hasil kinerja mentee selama periode praktek.
Kiat Dan Strategi Dari Penilaian
NMC (NMC, 2006a) menganjurkan bahwa strategi penilaian harus termasuk penjumlahan penilaian ujian praktek (OSCEs). Strategi lain melalui:
1.      Observasi: Observasi langsung di lahan praktek
2.      Simulasi: penilaian sumatif, boleh di lakukan disetiap ada kesempatan untuk mempertunjukkan kemampuan dalam praktek (NMC, 2006a)
3.      OSCEs
4.      Kesaksian dari orang lain
5.      Peran aktiv dari mentee dalam praktek
6.      Peran aktiv mentee dalam berdiskusi
7.      Berdasarkan buku pedoman praktek
8.      Wawancara  
9.      Koleksi  dari data
10.  Studi  kasus
11.  Masukan dari mentor yang lainU D SATU N C E F O R M E N KE R S
Berikut cara yang efektif untuk membantu mentee berkembang:
1.      Umpan balik disampaikan selama/setelah tindakan keperawatan dilakukan
2.      Memberikan waktu, perhatian penuh dan memastikan keleluasaan mentee dalam melaksanakan praktek
3.      Memberikan dukungan mentee untuk melakukan pengkajian
4.      Mendokumentasikan umpan balik
5.      Mempunyai sifat membangun
6.      Penilaian secara obyektif
7.      Penilaian secara spesifik
8.      Pergunakan pertanyaan terbuka dan memberikan alasan untuk komentarmu
9.      Diidentifikasi permasalahan yang muncul
10.  Memahami kebutuhan mentee.
11.   Beri saran mentee untuk melibatkan semua staft tenaga yang ada untuk membahas dan mengembangkan rencana tindakan yang akan dilakukan.
Pengalaman praktek mentee diakui oleh institusi pendidikan menjadi salah satu bagian yang paling penting untuk mempersiapkan mentee terjun di masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan secara profesional, ketetapan penempatan praktek bagian penting dari proses Pendidikan. Tiap-tiap praktisi mempunyai tanggung jawab untuk mendukung dan mendidik generasi muda perawat
Fokus bimbingan pada area penempatan praktek ada empat kunci:
·        Tersedianya tempat praktek
·        Adanya lingkungan yang mendukung untuk mempraktekkan teori
·        Adanya dukungan untuk mentee
·        Adanya evaluasi penilaian dari praktek.
5.      Keuntungan Dan Kerugian Metode Mentorship
Keuntungan Mentor (Pembimbing Klinik)
·        Mentor akan belajar dan melakukan refleksi-perspektif yang luas, mengembangkan pandangan baru tentang masalah yang muncul
·        Kesempatan untuk melangkah diluar rutinitas, menjadi lebih objektiv
·        Puas dalam memberikan kontribusi positif untuk pengembangan individu dan organisasi
Keuntungan Mentee (Peserta Didik)
·        Perpindahan fundamental dalam ketrampilan individu dan kemawasdirian
·        Pengembangan pendekatan seumur hidup untuk belajar mandiri, Meningkatkan penerimaan untuk kompetensi manajerial
·        Mengembangkan jaringan yang luas dari penyedia layanan.
·        Meningkatkan kapasitas untuk “kemampuan belajar mengaplikasikan”.
·        Meningkatkan kemampuan sebagai sumber ide dan praktek dari pandangan organisasi dan di intergrasikan kedalam dirinya.
·        Meningkatkan mawas diri, otonomi dan percaya diri.
Kerugian Mentorship
·        Memerlukan waktu
·        Kesempatan dan biaya untuk karyawan
·        Saat stress atau krisis konseling dibutuhkan
·        Saat hubungan menjadi disfungsional
Penyebab Mentoring tidak berjalan dengan baik:
·        Dumpers / sampah : tidak “mendapat” pada akhir proses
·        Blockers / hambatan : menghindari pertemuan dengan orang yang dibutuhkan
·        Destroyers / rusak: kegagalan yg berulang, menyebabkan terlihat tidak penting, mencari kesalahan
D.       APLIKASI MENTORING DALAM BIMBINGAN KLINIK KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT
Peran Pembimbing Klinik Sebagai Mentor :
·        Siap untuk mengambil peran sebagai mentor bagi mentee.
·        Membagi pengetahuan tentang perawatan pasien dan berlaku sebagai positif role model
·        Familiar dengan program study mentee dan melakukan dokumentasi pengkajian
·        Mengidentifikasi kesempatan belajar dan pengalaman belajar sebagai proses yang terencana
·        Mengobservasi mentee melakukan ketrampilan dalam supervisi sesuai level yang sesuai
·        Menyediakan waktu untuk refleksi, feedback, monitoring dan dokumentasi kemajuan mentee
·        Mengkaji kompetensi dan keamanan pasien, menjaga dalam dokumentasi pengkajian
·        Memberikan kepada mentee feedback membangun, dengan menyarankan bagaimana meningkatkan untuk peningkatan kemajuan mentee
·        Melaporkan setiap insiden yang tidak diinginkan atau hal penting kepada manajer senior anda dan institusi pendidikan
·        Bekerja sama denga dosen dan staf pendidikan klinik bila diperlukan
·        Memelihara pengetahuan profesional termasuk pertemuan “mentorship updates
·        Mencatat pengalaman mentoring anda sebagai bukti pengembangan profesional
·        Ikut dalam supervisi klinik dan merfleksikan hubungan ini ke dalam peran tersebut
Berdasarkan peran pembimbing klinik sebagai mentor, pada dasarnya peran seorang mentor adalah bertujuan untuk membantu mentee dalam bentuk perilaku mendukung dalam hal-hal positif, membantu dalam persiapan selama proses pembelajaran, memberikan berbagai informasi/intruksi yang dibutuhkan mentee, memberi kesempatan untuk ekspresi diri, menggali respon dan implikasi terhadap keperawatan dan menghubungkannya dengan keperawatan yang akan datang, serta melakukan evaluasi
Proses dalam melakukan mentoring, diantaranya :
1.      Persiapan Penempatan
Nama mentor sebaiknya dialokasikan untuk setiap mentee dengan penempatan area dan total durasi penempatan. Rotasi libur tetap direncanakan, sehingga setiap mentor mempunyai kesempatan untuk bekerja dengan mentee minimal 3 dari 5 shift (RCN 2002). Kondisi untuk mempelajari ketrampilan memerlukan petunjuk dari mentor yang membagikan pengalaman praktek agar para mentee tahu apa yang harus dilakukan, bagaiman melakukan tindakan, latihan ketrampilan, serta menerima hasil belajarnya. Untuk itu mentee perlu mendapatkan bimbingan dari mentor untuk mempraktekan kegiatan, berfikir dan merefleksikannya.
2.      Orientasi.
Sebelum masuk ke tempat praktek mentee harus sudah mendapatkan pembekalan terutama tentang tindakan-tindakan yang sering dilakukan di tempat praktek dan kasus-kasus yang ada, minimal sebelum ketempat praktek mentee sudah dinyatakan lulus dalam mengikuti lab skiill dan tercatat dalam portofolio mentee.
3.      Interview Kemajuan
Melakukan kontrak dengan mentee untuk :
·        Initial interview
·        Intermediate interview
·        Final interview
Initial Interview, Perlu dilakukan :
o Cari tahu tentang tahap training mentee
o Bantu mentee untuk meyusun tujuan yang bisa dicapai
o Tanyakan jika mereka punya tugas atau pengkajian
o Kenalkan mereka kepada tempat praktek.
o Cari tahu jika mereka mempunyai kecemasan spesifik
o Beri dukungan mereka untuk self-assesment setiap stage
Intermediate Interview, Perlu dilakukan :
o Tanyakan pendapat yang lebih luas dari staff lain
o Dukung mentee untuk mengkaji diri sendiri
o Klarifikasi setiap point yang di buat
o Berikan saran untuk perbaikan
o Catat point yang dibuat oleh mentee
o Lihat kembali perkembangan mentee
o Dorong mentee untuk menjawab pertanyaan
o Pastikan privacy untuk wawancara
o Kontak dengan institusi pendidikan bila ada hal penting
Jangan dilakukan :
o Perubahan tiba-tiba pada mentee
o Hanya menggunakan opini mentor sendiri
Final Interview, Perlu dilakukan :
o Tanyakan mentee untuk mengisi self assesment lagi
o Hubungi institusi pendidikan bila ada hal penting
Jangan dilakukan :
o Takut mengatakan bahwa mentee belum berhasil pada kasus tersebut
Evaluasi :
·        Mentee: praktek mereka harus dievaluasi sebagai bagian dari proses audit pendidikan
·        Mentor seharusnya diundang untuk mengevaluasi pengalaman mereka dalam memfasilitasi pengalaman pembelajaran dari mentee
·        Evaluasi ini harus sesuai dengan monitor kualitas lokal dan pemerintah
E.       KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan.
·        Mentoring adalah suatu peran yang mana mampu memberi dukungan dan semangat, mendengar, memfasilitasi mentee (peserta didik).Seorang mentor harus mempunyai pengetahuan yang bagus dalam lingkungan kerja dari mentee untuk lebih banyak memberikan advis dan saran tetapi mereka juga butuh “ekstra skill-set” seputar proses mentorship untuk memastikan mentee mendapatkan keuntungan yang maksimum dari hubungan tersebut.
·        Peran dari seorang mentor adalah Sebagai figur “ayah/ibu”, guru, role model, konselor yang bisa di dekati, pemberi saran yang dipercaya, sebagai penantang, motifator, orang yang memberi nominasi, sebagai orang yang lebih tua, senior, membetulkan- Hubungan hirarki.
·        Tiga komponen penyelenggara pembelajaran klinik model mentorship, yaitu mentor, penyelenggara lahan praktek, dan pendidikan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang mana tujuannya untuk penyelenggaraan pembelajaran klinik model               
·        Di dalam pelaksanaan pembelajarn klinik metode mentorship harus dialkukan evaluasi secara berkelanjutan.
·        Penerapan pembelajaran klinik dengan metode mentorship ada sisi yang menguntungkan tetapi juga ada kerugiannya, tetapi kerugian tersebut bisa diminimalisir atau bahkan bisa dicegah apabila dalam pelaksanaannya didasari atas tujuan untuk menciptakan generasi perawat handal dan profesional serta sebelum penerapan sudah dilakukan persiapan sebaik mungkin.

2.      Saran.
a.      Untuk seorang mentor:
·        Diharapkan mau berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mentee serta bersedia menyediakan waktu dalam proses pembelajaran klinik.
·        Mentor diharapkan tetap memperhatikan kebutuhan dan keselamatan klien
b.      Institusi pendidikan tinggi (HEIs)
·        Institusi Pendidikan lebih di tingkatkan lagi dukungannya kepada mentee, salah satunya dengan meningkatkan komunikasi dengan pihak lahan praktek
c.       Penyedia lahan praktek
·        Pihak lahan praktek harus selalu melakukan evaluasi terhadap mentor dan dilakukan perbaikan kualitas secara berkelanjutan.
·        Pihak lahan praktek memberi kesempatan kepada mentor seluas luasnya untuk melaksanakan peran dan tanggung jawabnya.
·        Membuka pintu komunikasi seluas-luasnya dengan pihak institusi pendidikan.
·        Secara terus menerus memperbaiki sarana prasarana guna mendukung proses pembelajaran klinik.

DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka cipta.
___________________2010. Mentoring. .British Journal of Hospital Medicine, February 2010, Vol 71, No 2
Moberg, D.J. and Velasquez (2004) The Ethics of Mentoring Business Ethics Quarterly; Volume 14, Issues 1. Available, Online at http://www.itl.usyd.edu.au/community/moberg.pdf (accessed on 12.02.07) 
September 2007
__________________.2007. Guidance for mentors of nursing students and midwives. Second edition Published by the Royal College of Nursing 20 Cavendish Square London W1G 0RN




LAMPIRAN