KEGIATAN BIMBINGAN KLINIK
KEPERAWATAN
DENGAN METODE MENTORSHIP
A.
Latar belakang.
Untuk menghasilkan perawat
profesional, harus melewati dua tahap pendidikan yaitu pendidikan akademik dan
tahap profesi, kedua tahap tersebut merupakan tahapan pendidikan yang
terintegrasi sehingga tidak dapat dipisahkan. Salah satu cara untuk pengembangan dan pengendalian mutu
keperawatan adalah dengan cara mengembangkan lahan praktek keperawatan disertai
dengan adanya pembinaan masyarakat profesional keperawatan untuk melaksanakan
pengalaman belajar di lapangan dengan benar bagi peserta didik (mentee). Tanggungjawab masyarakat
profesional keperawatan dalam melaksanakan keperawatan profesional, dengan sistem nilai
dan tradisi profesionalnya adalah hal yang mutlak dalam pendidikan keperawatan
sebagai pendidikan profesional. Lahan praktek keperawatan merupakan komponen pendidikan
yang perlu mendapat perhatian bagi para pengelola lahan praktek. Maka dengan adanya lahan
praktek dan komponennya yang baik akan dapat
dikembangkan pengalaman belajar klinik dengan benar.
Perubahan sikap dan keterampilan profesional dengan
melalui pengalaman klinik yang diselenggarakan dengan benar dalam tatanan
pelayanan keperawatan profesional sangat menentukan
kualitas dan
kondisi perawat dimasa mendatang, selain itu juga tergantung dari kita (yang sudah
menjadi perawat) untuk menyiapkan peserta didik keperawatan yang praktek di
klinik. Tanpa
disadari ternyata perawat kurang memperhatikan proses bimbingan terhadap peserta
didik baik tingkat DIII maupun Ners muda. Seakan fokus kita “hanya” mengurus
pekerjaan kita sehari-hari saja. Ada anggapan bahwa urusan pendidikan dan bimbingan
kepada peserta didik merupakan tanggungjawab institusi pendidikan. Sehingga
perawat klinik merasa “setengah-setengah” dalam melakukan bimbingan dan yang dirasakan
oleh peserta didik (mentee) praktek adalah kesan “disuruh” melakukan
sesuatu pekerjaan. Kenyataannya pembimbing dari institusi pendidikan frekwensi
kehadirannya di klinik bisa dikatakan jarang/bahkan tidak kelihatan atau
perawat yang ada di bangsal banyak disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing
sehingga tidak sempat melakukan bimbingan kepada mentee.
Oleh karena itu untuk menjawab dan mengatasi semua permasalahan tersebut diatas
maka perlu dilaksanakan bimbingan klinik dengan menggunakan metode mentorship.
B. Tujuan
penulisan.
Tujuan umum
masyarakat profesional
keperawatan mempunyai tanggung jawab bersama dalam menyiapkan peserta didik
keperawatan menjadi perawat yang profesional.
Tujuan khusus
Meningkatkan pemahamann tentang:
a. Mentorship
b. Peran dan tanggungjawab mentor
c. Peran dan tanggungjawab lahan
praktek
d. Tanggung jawab mentee
e. Penilaian
f.
Keuntungan
dan kerugian penggunaan pembelajaran klinik metode mentorship
C. Tinjauan
literatur
Pendidikan keperawatan terbagi
menjadi dua tahap yaitu tahap akademik dan tahap profesi. Disiplin akademik
lebih menekankan pada pengetahuan dan teori yang bersifat deskriptif,
sedangkan disiplin profesional diarahkan pada tujuan praktis, sehingga
menghasilkan teori preskriptif dan deskriptif. Disiplin profesi
hanya akan didapat di lingkungan klinis karena lingkungan klinis merupakan
lingkungan multiguna yang dinamik sebagai tempat pencapaian berbagai kompetensi
praktik klinis di dalam kurikulum profesional.
Tujuan dari praktik klinis dapat
dicapai di lingkungan manapun yang melibatkan peserta didik di dalam praktik keperawatan.
Sebagai contoh untuk kasus-kasus jiwa biasanya bekerjasama dengan klinik jiwa
atau rumah sakit jiwa, karena selain memiliki pasien dalam jumlah banyak,
kasusnya lebih spesifik. Sehingga lebih mudah untuk pencapaian kompetensi
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk kasus-kasus yang biasa
terjadi di keluarga dan masyarakat/komunitas yang terkait dengan pelayanan
primer menggunakan puskesmas sebagai lahan praktik.
Praktik klinik diharapkan bukan
hanya sekedar untuk menerapkan teori ke dalam praktik profesional. Melalui
praktik klinik, peserta didik diharapkan lebih aktif dalam setiap tindakan
sehingga akan menjadi orang yang cekatan dalam menggunakan teori tindakan.
Lebih jauh lagi, praktik keperawatan profesional mencakup banyak hal termasuk
diantaranya pengambilan keputusan klinis yang mengintegrasikan teori, hukum, pengetahuan,
prinsip dan pemakaian keterampilan khusus. Tidak kalah pentingnya adalah
bagaimana perawat menerima klien sebagai makhluk hidup yang utuh, unik dan
mandiri dengan hak-haknya yang tidak dapat dipisahkan.
Selama praktik klinis, peserta
didik (mentee) dapat bereksperimen berdasarkan teori, menyelesaikan
masalah, dan mengembangkan bentuk keperawatan baru. Adanya rasa takut berbuat
salah hanya akan membatasi perkembangan dan keinginan mentee untuk
bereksperimen dalam perawatan. Kondisi ini berdampak pada minimnya pengalaman
klinik mentee. Mentor adakalanya merasa takut seandainya mentee
berbuat kesalahan, sehingga sering menuntut hal yang tidak realistik pada mentee.
Hal ini berdampak kepada kompetensi tertentu yang mungkin tidak tercapai selama
proses pembelajaran.
1.
Definisi mentoring
·
Pasangan
intens dari orang yang lebih terampil/berpengalaman dengan orang
ketrampilan/pengalaman sedikit, dengan tujuan yang disepakati oleh orang yang
mempunyai pengalaman lebih sedikit untuk menambah dan mengembangkan kompetensi
yang spesifik. (M Murray and M Owen, ‘Beyond the Myths of Mentoring: How to
facilitate an Effective Mentoring Program’, Jossey-Bass, San Francisco 1991).
·
Hubungan
pembelajaran dan konseling antara orang yang berpengalaman yang membagi
keahlian professional dengan orang yang lebih sedikit pengalaman untuk
mengembangkan ketrampilan dan kemampuan dari bagian yang kurang pengalaman.
(Treasury Board of Canada)
Dari definisi tersebut diatas
bisa disimpulkan bahwa mentoring adalah:
·
Support (dukungan)
·
Encouragement (memberi semangat)
·
Listening (mendengar)
·
Facilitation
of Self-Reliance
(memfasilitasi)
·
Mentoring bukan “Evaluation”
Jadi seorang mentor harus
mempunyai pengetahuan yang cukup untuk lebih banyak memberikan saran serta
mereka juga butuh “ekstra skill-set” seputar proses mentorship
untuk memastikan peserta didik (mentee) mendapatkan keuntungan yang maksimum.
2. Peran
mentor.
Sebagai mentor diperlukan untuk memberikan dukungan/bimbingan pada mentee, diantaranya memberikan kesempatan
untuk:
·
Mengaplikasikan teori.
·
Melakukan pengkajian, evaluasi dan memberikan umpan balik bersifat membangun
·
Memudahkan
pemantulan pada praktek, kinerja dan pengalaman yang dimiliki.
Seorang mentor harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya:
·
Dapat berfungsi
secara efektif .
·
Dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan.
·
Mempunyai tingkat pendidikan satu tingkat lebih tinggi dari mentee.
Seorang mentor juga dituntut mampu:
·
Membantu mentee untuk mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri.
·
Meningkatkan hubungan profesional dengan mentee.
Berdasarkan beberapa syarat tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang mentor
juga harus dapat berperan sebagai:
·
Figur
“ayah/ibu”
·
Guru
·
Role
model
·
Konselor yang bisa di dekati
·
Pemberi saran yang dipercaya
·
Penantang
·
Pemberi
semangat
·
Orang
yang memberi nominasi
·
Orang yang lebih tua
·
Senior
·
Membetulkan
·
Hubungan
hirarki
Gambaran “Pohon mentor”
Qualities of a mentor :
·
Pendengar
yang baik
·
Dihargai
sebagai profesional
·
Dapat
di dekati
·
Dapat
diakses
·
Tidak
menghakimi
·
Antusias,
memberi saran/mendorong
·
Bijaksana
·
Berpengalaman
·
Memberi
tantangan, tapi tidak destruktif
·
Etika,
jujur, dan dapat dipercaya
Peran seorang mentor
sangat penting
Seorang mentor dituntut harus mempunyai peran sebagai guru dan
pengawas peserta didik selama di tempat/lahan praktek dan juga seorang Mentor
mempunyai peran yang sangat penting dalam menjamin mutu pendidikan keperawatan.
Tiga Pendekatan Mentoring
menurut Morton-Cooper & Palmer :
·
Classical
mentoring,
Sebagai pilihan, hubungan informal alamaiah. Kemampuan dalam emosional,
organisasional, dan istilah profesional.
·
Contract
mentoring,
Sebagai tambahan , membuat hubungan organisasional biasanya berfokus pada
fungsi spesifik yang membantu
·
Pseudomentoring,
Mentoring
dalam dalam “penampilan” , istilah yang singkat dan fokus yang jelas, misalnya
dukungan dalam penempatan pencapaian yang spesifik, tujuan yang sempit.
Komponen Kesuksesan Hubungan Mentoring
:
·
Komitmen
untuk bertemu
·
Kerahasiaan
·
Penghargaan
Mutual respect and benefit
·
Kemampuan
untuk berdiskusi dan menyetujui :
o Tujuan
o Batasan
o Durasi
o Penggunaan yang tidak sesuai
·
Suport dari figur senior
·
Terpisah
dari sistem lain
·
Partisipasi
secara sukarela
·
Terencana
secara formal, tetapi bisa diatur secara informal
·
Mentee memilih mentor
·
Training dan suport dari provider
·
Tidak
melepaskan suport sumber lain
Tahap-tahap mentoring
menurut Dalton/Thompson Career Development model:
o Tahap
1 Dependence
Profesional baru masih tergantung pada mentor dan mengambil peran subordinat dimana memerlukan supervisi yang dekat
Profesional baru masih tergantung pada mentor dan mengambil peran subordinat dimana memerlukan supervisi yang dekat
o
Tahap
2 Independence
Profesional dan mentor mengembangkan hubungan yang lebih seimbang. Profesional mengubah dari ” ke “kolega” dan membutuhkan sedikit supervisi.
Profesional dan mentor mengembangkan hubungan yang lebih seimbang. Profesional mengubah dari ” ke “kolega” dan membutuhkan sedikit supervisi.
o Tahap
3 Supervising others
Menjadi mentor bagi dirinya sendiri dan mendemostrasikan kualitas profesional sebagai mentor
Menjadi mentor bagi dirinya sendiri dan mendemostrasikan kualitas profesional sebagai mentor
o Tahap
4 Managing and supervising others
Menjadi responsibel untuk penampilan yang lain dikarakteristikan dengan merubah peran dari manajer atau supervisor menjadi resposibel terhadap klien peserta didik dan personel
Menjadi responsibel untuk penampilan yang lain dikarakteristikan dengan merubah peran dari manajer atau supervisor menjadi resposibel terhadap klien peserta didik dan personel
3.
Tanggung Jawab
Tanggungjawab Mentor:
·
Mempersiapkan peserta didik untuk mampu melaksanakan peran perawat
·
Berbagi pengetahuan dengan pasien
·
Mempunyai kesempatan dan mendapatkan pengalaman belajar
·
Menyediakan waktu untuk memberikan umpan balik, memonitor dan
mencatat setiap kemajuan yang didapat mentee.
·
Mengkaji kemampuan dan keselamatan pasien dan dilakukan dokumentasi
·
Memberikan umpan balik dengan tujuan membangun mentee dengan cara
memberikan saran bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan
·
Melaporkan setiap insiden buruk kepada menager senior
·
Memberi kuliah dan mempraktekan cara mengorganisir permasalahan sesuai
dengan kebutuhan
·
Selalu aktiv mengikuti perkembangan ilmu
·
Terlibat dalam pengawasan klinis mentee
Tanggungjawab Institusi Pendidikan Tinggi (Heis)
·
Mengerjakan collaboratively dengan pihak lahan
praktek
·
Mendukung mentor dan mentee tetap terjalin komunikasi.
·
Memastikan terjadi satu sistem komunikasi yang pada tempatnya
·
Mengomunikasikan
perubahan apapun yang terjadi ke bagian program.
·
Melakukan satu sistem evaluasi yang efektif pada tempatnya.
Tanggungjawab Penyedia Lahan Praktek
·
Mempersiapkan mentor sebaik-baiknya
·
Melakukan collaboratively dengan
HEIs (pendidikan)
·
Menyediakan
kesempatan belajar untuk mentee
·
Mengakui adanya kompleksitas dari peran mentor
·
Mengidentifikasi dan mendukung kebutuhan mentor
·
Mengevaluasi kinerja mentor
·
Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar dan mengajar
·
Memberikan motivasi pada mentee untuk berusaha berkembang.
NMC merekomendasikan secara normal seorang mentor tidak boleh membantu lebih dari tiga mentee (NMC, 2006a).
4.
Penilaian
Penilaian mentee secara terus menerus selama periode
praktek sangat penting, hal ini dilakukan
untuk mengetahui dan bagaimana perkembangan mentee tersebut mengalami
kemajuan sesuai dengan tingkat pengetahuan yang diharapkan dan dilakukan pembahasan
secara berkala, umpan balik dan dokumentasi sepanjang periode praktek. Penilaian dapat dilakukan secara formal atau
informal. Ada beberapa hal yang harus dinilai diantaranya tingkat pengetahuan, pemahaman, dan
kemampuan untuk menerapkan teori dalam praktek, keterampilan, perilaku profesional juga harus dikaji termasuk sikap/etika, tugas kelompok, penampilan dan
motivasi. Penilaian tersebut harus dilakukan seobyektif mungkin. Semua penilaian
harus didokumentasikan pada
buku dokumentasi mentee. R O Y SATU L C O L E G E O F N U R S AKU N G
Hasil penilaian dapat dipercaya kalau diberikan pada kesempatan terpisah dengan penilai yang lain. Stuart (2007) mengidentifikasi tiga emisi kunci:
1. Konsistensi dari kinerja mentee : bagaimana konsisten
adalah kinerjanya mentee.
2. Konsistensi dari penilaian: akan di interpretasikan kinerja mentee dari satu
keterampilan tertentu dapat dilakukan dengan cara yang sama di kesempatan yang berbeda.
3. Konsistensi di antara penilai–penilai akan
mensepakati hasil kinerja mentee selama periode praktek.
Kiat Dan Strategi Dari Penilaian
NMC (NMC, 2006a) menganjurkan bahwa strategi penilaian harus termasuk penjumlahan penilaian ujian praktek (OSCEs). Strategi
lain melalui:
1.
Observasi: Observasi langsung di lahan praktek
2.
Simulasi: penilaian sumatif, boleh di lakukan disetiap ada kesempatan untuk
mempertunjukkan kemampuan dalam praktek (NMC, 2006a)
3.
OSCEs
4.
Kesaksian dari
orang lain
5.
Peran aktiv dari mentee dalam praktek
6.
Peran aktiv mentee dalam berdiskusi
7.
Berdasarkan buku pedoman praktek
8.
Wawancara
9.
Koleksi dari data
10. Studi kasus
11. Masukan dari mentor
yang lainU D SATU N C E F O R M E N KE R S
Berikut cara
yang efektif untuk membantu mentee
berkembang:
1. Umpan balik disampaikan selama/setelah tindakan keperawatan dilakukan
2. Memberikan waktu, perhatian
penuh dan memastikan keleluasaan mentee dalam melaksanakan praktek
3. Memberikan dukungan mentee untuk melakukan
pengkajian
4. Mendokumentasikan umpan balik
5. Mempunyai sifat membangun
6. Penilaian secara obyektif
7. Penilaian secara spesifik
8. Pergunakan pertanyaan terbuka dan memberikan alasan untuk komentarmu
9. Diidentifikasi
permasalahan yang muncul
10. Memahami kebutuhan mentee.
11. Beri saran mentee untuk melibatkan
semua staft tenaga yang ada untuk membahas dan mengembangkan rencana tindakan yang
akan dilakukan.
Pengalaman
praktek mentee diakui oleh institusi pendidikan menjadi salah satu
bagian yang paling penting untuk mempersiapkan mentee
terjun di masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan secara profesional, ketetapan penempatan praktek bagian penting dari proses Pendidikan. Tiap-tiap praktisi
mempunyai tanggung jawab untuk mendukung dan mendidik generasi muda perawat
Fokus bimbingan pada area penempatan praktek ada empat kunci:
·
Tersedianya tempat praktek
·
Adanya lingkungan yang mendukung untuk mempraktekkan teori
·
Adanya dukungan untuk mentee
·
Adanya evaluasi penilaian dari praktek.
5.
Keuntungan Dan Kerugian Metode
Mentorship
Keuntungan Mentor
(Pembimbing Klinik)
·
Mentor
akan belajar dan melakukan refleksi-perspektif yang luas, mengembangkan
pandangan baru tentang masalah yang muncul
·
Kesempatan
untuk melangkah diluar rutinitas, menjadi lebih objektiv
·
Puas
dalam memberikan kontribusi positif untuk pengembangan individu dan organisasi
Keuntungan Mentee (Peserta
Didik)
·
Perpindahan
fundamental dalam ketrampilan individu dan kemawasdirian
·
Pengembangan
pendekatan seumur hidup untuk belajar mandiri, Meningkatkan penerimaan untuk
kompetensi manajerial
·
Mengembangkan
jaringan yang luas dari penyedia layanan.
·
Meningkatkan
kapasitas untuk “kemampuan belajar mengaplikasikan”.
·
Meningkatkan
kemampuan sebagai sumber ide dan praktek dari pandangan organisasi dan di
intergrasikan kedalam dirinya.
·
Meningkatkan
mawas diri, otonomi dan percaya diri.
Kerugian Mentorship
·
Memerlukan
waktu
·
Kesempatan
dan biaya untuk karyawan
·
Saat
stress atau krisis konseling dibutuhkan
·
Saat
hubungan menjadi disfungsional
Penyebab Mentoring tidak berjalan
dengan baik:
·
Dumpers
/ sampah : tidak “mendapat” pada akhir proses
·
Blockers
/ hambatan : menghindari pertemuan dengan orang yang dibutuhkan
·
Destroyers
/ rusak: kegagalan yg berulang, menyebabkan terlihat tidak penting, mencari
kesalahan
D. APLIKASI
MENTORING DALAM BIMBINGAN KLINIK KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT
Peran Pembimbing Klinik Sebagai Mentor
:
·
Siap
untuk mengambil peran sebagai mentor bagi mentee.
·
Membagi
pengetahuan tentang perawatan pasien dan berlaku sebagai positif role model
·
Familiar dengan program study mentee
dan melakukan dokumentasi pengkajian
·
Mengidentifikasi
kesempatan belajar dan pengalaman belajar sebagai proses yang terencana
·
Mengobservasi
mentee melakukan ketrampilan dalam
supervisi sesuai level yang sesuai
·
Menyediakan
waktu untuk refleksi, feedback, monitoring dan dokumentasi kemajuan mentee
·
Mengkaji
kompetensi dan keamanan pasien, menjaga dalam dokumentasi pengkajian
·
Memberikan
kepada mentee feedback membangun, dengan menyarankan bagaimana
meningkatkan untuk peningkatan kemajuan mentee
·
Melaporkan
setiap insiden yang tidak diinginkan atau hal penting kepada manajer senior
anda dan institusi pendidikan
·
Bekerja
sama denga dosen dan staf pendidikan klinik bila diperlukan
·
Memelihara
pengetahuan profesional termasuk pertemuan “mentorship updates”
·
Mencatat
pengalaman mentoring anda sebagai bukti pengembangan profesional
·
Ikut
dalam supervisi klinik dan merfleksikan hubungan ini ke dalam peran tersebut
Berdasarkan peran pembimbing
klinik sebagai mentor, pada dasarnya peran seorang mentor adalah
bertujuan untuk membantu mentee dalam
bentuk perilaku mendukung dalam hal-hal positif, membantu dalam persiapan selama
proses pembelajaran, memberikan berbagai informasi/intruksi yang dibutuhkan mentee, memberi kesempatan untuk ekspresi diri,
menggali respon dan implikasi terhadap keperawatan dan menghubungkannya dengan
keperawatan yang akan datang, serta melakukan evaluasi
Proses dalam melakukan mentoring,
diantaranya :
1.
Persiapan Penempatan
Nama mentor sebaiknya dialokasikan untuk setiap mentee dengan penempatan area dan total durasi penempatan. Rotasi libur tetap direncanakan, sehingga setiap mentor mempunyai kesempatan untuk bekerja dengan mentee minimal 3 dari 5 shift (RCN 2002). Kondisi untuk mempelajari ketrampilan memerlukan petunjuk dari mentor yang membagikan pengalaman praktek agar para mentee tahu apa yang harus dilakukan, bagaiman melakukan tindakan, latihan ketrampilan, serta menerima hasil belajarnya. Untuk itu mentee perlu mendapatkan bimbingan dari mentor untuk mempraktekan kegiatan, berfikir dan merefleksikannya.
Nama mentor sebaiknya dialokasikan untuk setiap mentee dengan penempatan area dan total durasi penempatan. Rotasi libur tetap direncanakan, sehingga setiap mentor mempunyai kesempatan untuk bekerja dengan mentee minimal 3 dari 5 shift (RCN 2002). Kondisi untuk mempelajari ketrampilan memerlukan petunjuk dari mentor yang membagikan pengalaman praktek agar para mentee tahu apa yang harus dilakukan, bagaiman melakukan tindakan, latihan ketrampilan, serta menerima hasil belajarnya. Untuk itu mentee perlu mendapatkan bimbingan dari mentor untuk mempraktekan kegiatan, berfikir dan merefleksikannya.
2.
Orientasi.
Sebelum masuk ke tempat praktek mentee harus sudah mendapatkan pembekalan terutama tentang tindakan-tindakan yang sering dilakukan di tempat praktek dan kasus-kasus yang ada, minimal sebelum ketempat praktek mentee sudah dinyatakan lulus dalam mengikuti lab skiill dan tercatat dalam portofolio mentee.
Sebelum masuk ke tempat praktek mentee harus sudah mendapatkan pembekalan terutama tentang tindakan-tindakan yang sering dilakukan di tempat praktek dan kasus-kasus yang ada, minimal sebelum ketempat praktek mentee sudah dinyatakan lulus dalam mengikuti lab skiill dan tercatat dalam portofolio mentee.
3.
Interview Kemajuan
Melakukan
kontrak dengan mentee untuk :
·
Initial
interview
·
Intermediate
interview
·
Final
interview
Initial Interview, Perlu dilakukan :
o Cari tahu tentang tahap training mentee
o Bantu mentee untuk meyusun tujuan yang bisa dicapai
o Tanyakan jika mereka punya tugas atau pengkajian
o Kenalkan mereka kepada tempat praktek.
o Cari tahu jika mereka mempunyai kecemasan spesifik
o Beri dukungan mereka untuk self-assesment setiap stage
o Cari tahu tentang tahap training mentee
o Bantu mentee untuk meyusun tujuan yang bisa dicapai
o Tanyakan jika mereka punya tugas atau pengkajian
o Kenalkan mereka kepada tempat praktek.
o Cari tahu jika mereka mempunyai kecemasan spesifik
o Beri dukungan mereka untuk self-assesment setiap stage
Intermediate Interview, Perlu dilakukan :
o Tanyakan pendapat yang lebih luas dari staff lain
o Dukung mentee untuk mengkaji diri sendiri
o Klarifikasi setiap point yang di buat
o Berikan saran untuk perbaikan
o Catat point yang dibuat oleh mentee
o Lihat kembali perkembangan mentee
o Dorong mentee untuk menjawab pertanyaan
o Pastikan privacy untuk wawancara
o Kontak dengan institusi pendidikan bila ada hal penting
Jangan dilakukan :
o Perubahan tiba-tiba pada mentee
o Hanya menggunakan opini mentor sendiri
o Tanyakan pendapat yang lebih luas dari staff lain
o Dukung mentee untuk mengkaji diri sendiri
o Klarifikasi setiap point yang di buat
o Berikan saran untuk perbaikan
o Catat point yang dibuat oleh mentee
o Lihat kembali perkembangan mentee
o Dorong mentee untuk menjawab pertanyaan
o Pastikan privacy untuk wawancara
o Kontak dengan institusi pendidikan bila ada hal penting
Jangan dilakukan :
o Perubahan tiba-tiba pada mentee
o Hanya menggunakan opini mentor sendiri
Final Interview, Perlu dilakukan :
o Tanyakan mentee untuk mengisi self assesment lagi
o Hubungi institusi pendidikan bila ada hal penting
Jangan dilakukan :
o Takut mengatakan bahwa mentee belum berhasil pada kasus tersebut
o Tanyakan mentee untuk mengisi self assesment lagi
o Hubungi institusi pendidikan bila ada hal penting
Jangan dilakukan :
o Takut mengatakan bahwa mentee belum berhasil pada kasus tersebut
Evaluasi :
·
Mentee: praktek mereka harus dievaluasi sebagai
bagian dari proses audit pendidikan
·
Mentor seharusnya diundang untuk
mengevaluasi pengalaman mereka dalam memfasilitasi pengalaman pembelajaran dari
mentee
·
Evaluasi
ini harus sesuai dengan monitor kualitas lokal dan pemerintah
E. KESIMPULAN
DAN SARAN
1. Kesimpulan.
·
Mentoring adalah suatu peran yang mana
mampu memberi dukungan dan semangat, mendengar, memfasilitasi mentee (peserta didik).Seorang mentor
harus mempunyai pengetahuan yang bagus dalam lingkungan kerja dari mentee untuk lebih banyak
memberikan advis dan saran tetapi mereka juga butuh “ekstra skill-set”
seputar proses mentorship untuk memastikan mentee mendapatkan keuntungan
yang maksimum dari hubungan tersebut.
·
Peran
dari seorang mentor adalah Sebagai figur “ayah/ibu”, guru, role model,
konselor yang bisa di dekati, pemberi saran yang dipercaya, sebagai
penantang, motifator, orang yang memberi nominasi, sebagai orang yang lebih
tua, senior, membetulkan- Hubungan hirarki.
·
Tiga komponen penyelenggara pembelajaran klinik model
mentorship, yaitu mentor, penyelenggara lahan praktek, dan
pendidikan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang mana tujuannya untuk
penyelenggaraan pembelajaran klinik model
·
Di dalam pelaksanaan pembelajarn klinik metode mentorship
harus dialkukan evaluasi secara berkelanjutan.
·
Penerapan pembelajaran klinik dengan metode mentorship
ada sisi yang menguntungkan tetapi juga ada kerugiannya, tetapi kerugian
tersebut bisa diminimalisir atau bahkan bisa dicegah apabila dalam pelaksanaannya
didasari atas tujuan untuk menciptakan generasi perawat handal dan profesional
serta sebelum penerapan sudah dilakukan persiapan sebaik mungkin.
2. Saran.
a.
Untuk seorang mentor:
·
Diharapkan mau berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mentee
serta bersedia menyediakan waktu dalam proses pembelajaran klinik.
·
Mentor diharapkan tetap memperhatikan kebutuhan dan keselamatan klien
b.
Institusi
pendidikan tinggi (HEIs)
·
Institusi Pendidikan lebih di tingkatkan lagi dukungannya kepada mentee, salah satunya
dengan meningkatkan komunikasi dengan pihak lahan praktek
c.
Penyedia lahan praktek
·
Pihak lahan praktek harus selalu melakukan evaluasi terhadap mentor
dan dilakukan perbaikan kualitas secara berkelanjutan.
·
Pihak lahan praktek memberi kesempatan kepada mentor seluas luasnya
untuk melaksanakan peran dan tanggung jawabnya.
·
Membuka pintu komunikasi seluas-luasnya dengan pihak institusi pendidikan.
·
Secara
terus menerus memperbaiki sarana prasarana guna mendukung proses pembelajaran
klinik.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka
cipta.
___________________2010.
Mentoring. .British Journal of Hospital Medicine, February 2010, Vol 71, No 2
Moberg,
D.J. and Velasquez (2004) The Ethics of Mentoring Business Ethics Quarterly;
Volume 14, Issues 1. Available, Online at http://www.itl.usyd.edu.au/community/moberg.pdf
(accessed on 12.02.07)
September 2007
__________________.2007.
Guidance for mentors of nursing students and midwives. Second edition Published
by the Royal College of Nursing 20 Cavendish Square London W1G 0RN
LAMPIRAN