KONSEP BENCANA GUNUNG MELETUS
A. ANCAMAN GUNUNG MERAPI
Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan
oleh pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara
pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat
yang tertimpa bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum
mampu untuk menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang
tidak segera datang.
Perlu disadari bahwa detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah
saat yang sangat penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih
besar.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi.
Didasari pemikiran tersebut dan sejalan dengan program pengembangan masyarakat yang mandiri, masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada waktu bencana terjadi.
Masyarakat yang menghadapi bencana adalah yang menjadi korban dan
yang harus menghadapi kondisi akibat bencana. Oleh karena itu, masyarakat perlu
membuat perencanaan untuk persiapan dalam pencegahan bencana.
B. GUNUNG API
MELETUS
Penyebab
Gunung api meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Gunung api bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini, seperti yang terjadi pada Gunung Pinatubo di Filipina dan Gunung Krakatau di Propinsi Banten, Indonesia.
Penyebab
Gunung api meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Gunung api bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini, seperti yang terjadi pada Gunung Pinatubo di Filipina dan Gunung Krakatau di Propinsi Banten, Indonesia.
Dampak Hasil letusan gunung api
1.
Gas vulkanik
Gas vulkanik adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan
gunung berapi. Gas-gas yang dikeluarkan antara lain Karbon Monoksida (CO),
Karbon Dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur Dioksida (SO2) dan
Nitrogen (N2) yang membahayakan bagi manusia.
2.
Lava dan aliran pasir serta
batu panas
Lava adalah cairan magma bersuhu sangat tinggi yang mengalir ke
permukaan melalui kawah gunung berapi. Lava encer mampu mengalir jauh dari
sumbernya mengikuti sungai atau lembah yang ada, sedangkan lava kental mengalir
tidak jauh dari sumbernya.
3.
Lahar
Lahar juga merupakan salah satu ancaman bagi masyarakat yang tinggal
di lereng gunung berapi. Lahar adalah banjir bandang di lereng gunung yang
terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran lempung sampai bongkah.
Lahar dapat berupa lahar panas atau lahar dingin. Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau kawah, dimana air danau menjadi panas kemudian bercampur dengan material letusan dan keluar dari mulut gunung. Lahar dingin atau lahar hujan terjadi karena percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar gunung yang kemudian membuat lumpur kental dan mengalir dari lereng gunung. Lumpur ini bisa panas atau dingin.
Lahar dapat berupa lahar panas atau lahar dingin. Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau kawah, dimana air danau menjadi panas kemudian bercampur dengan material letusan dan keluar dari mulut gunung. Lahar dingin atau lahar hujan terjadi karena percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar gunung yang kemudian membuat lumpur kental dan mengalir dari lereng gunung. Lumpur ini bisa panas atau dingin.
4.
Tanah longsor
5.
Gempa bumi
6.
Abu letusan
Abu letusan gunung berapi adalah material letusan yang sangat halus.
Karena hembusan angin dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometer jauhnya. Pada letusan besar seperti
pernah terjadi di Gunung Krakatau, abu yang dihasilkan bahkan menutupi sinar
matahasi sampai berminggu-minggu.
Dampak abu letusan :
a.
Permasalahan pernapasan
b.
Kesulitan penglihatan
Pencemaran sumber air bersih
c.
Badai listrik Gangguan kerja
mesin dan kendaraan bermotor Kerusakan atap
d.
Kerusakan ladang dan lingkungan
sekitar Kerusakan infrastruktur seperti jalan dan bandar udara
7.
Awan panas (Piroklastik)
Awan panas adalah hasil letusan gunung
api yang paling berbahaya karena tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari
awan panas tersebut kecuali melakukan evakuasi sebelum gunung meletus. Awan
panas bisa berupa awan panas aliran, awan panas hembusan dan awan panas
jatuhan. Awan panas aliran adalah awan dari material letusan besar yang panas,
mengalir turun dan akhirnya mengendap di dalam dan di sekitar sungai dan
lembah.
Awan panas hembusan (wedhus gembel) adalah awan dari material letusan kecil yang panas,
dihembuskan angin dengan kecepatan mencapai 90 km per jam. Awan panas jatuhan
adalah awan dari material letusan panas besar dan kecil yang dilontarkan ke
atas oleh kekuatan letusan yang besar. Material
berukuran besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan
jatuh mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer dari puncak
karena pengaruh hembusan angin.
berukuran besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan
jatuh mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer dari puncak
karena pengaruh hembusan angin.
Awan panas dapat mengakibatkan luka
bakar pada bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki,
dan juga menyebabkan sesak napas sampai tidak bisa bernapas.
C. PERSIAPAN PENANGANAN BENCANA OLEH MASYARAKAT
1.
Mengurangi
Kemungkinan/Dampak
Dalam upaya mengurangi dampak bencana di suatu wilayah, tindakan pencegahan perlu dilakukan oleh masyarakatnya. Pada saat bencana terjadi, korban jiwa dan kerusakan yang timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan dan sistem peringatan dini. Persiapan yang baik akan bisa membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang tepat guna dan tepat waktu.
Bencana bisa menyebabkan kerusakan fasilitas umum, harta benda dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara pencegahannya masyarakat bisa mengurangi resiko ini.
Dalam upaya mengurangi dampak bencana di suatu wilayah, tindakan pencegahan perlu dilakukan oleh masyarakatnya. Pada saat bencana terjadi, korban jiwa dan kerusakan yang timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan dan sistem peringatan dini. Persiapan yang baik akan bisa membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang tepat guna dan tepat waktu.
Bencana bisa menyebabkan kerusakan fasilitas umum, harta benda dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara pencegahannya masyarakat bisa mengurangi resiko ini.
2.
Menjalin Kerjasama
Penanggulangan bencana hendaknya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah serta pihak-pihak terkait. Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses penanggulangan bencana.
Penanggulangan bencana hendaknya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah serta pihak-pihak terkait. Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses penanggulangan bencana.
3.
Tindakan Kesiapsiagaan
a. Persiapan dalam menghadapi letusan gunung api
a. Persiapan dalam menghadapi letusan gunung api
·
Mengenali tanda-tanda bencana,
karakter gunung api dan ancaman-ancamannya
·
Membuat peta ancaman, mengenali
daerah ancaman, daerah aman Membuat sistem peringatan dini Mengembangkan Radio
komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api
·
Mencermati dan memahami Peta
Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang
·
Membuat perencanaan penanganan
bencana
·
Mempersiapkan jalur dan tempat
pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan,
pertolongan pertama) jika diperlukan.
·
Mempersiapkan kebutuhan dasar
dan dokumen penting
·
Memantau informasi yang
diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api (dikoordinasi oleh Direktorat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung api biasanya
mengkomunikasikan perkembangan status gunung api lewat radio komunikasi
b. Tindakan Saat
Terjadi Letusan Gunung Api
Yang sebaiknya dilakukan jika terjadi letusan
gunung api
1.
Hindari daerah rawan bencana
seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar
2.
Hindari tempat terbuka,
lindungi diri dari abu letusan
3.
Masuk ruang lindung darurat
4.
Siapkan diri untuk kemungkinan
bencana susulan
5.
Kenakan pakaian yang bisa
melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya
Melindungi mata dari debu - bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata
renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata
6.
Jangan memakai lensa kontak
7.
Pakai masker atau kain untuk
menutupi mulut dan hidung Saat turunnya abu gunung api
8.
Usahakan untuk menutup wajah
dengan kedua belah tangan
c. Tindakan Setelah
Terjadi Letusan Gunung Api
Yang sebaiknya dilakukan setelah terjadinya letusan gunung api
1.
Jauhi wilayah yang terkena
hujan abu
2.
Bersihkan atap dari timbunan
abu karena beratnya bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan
3.
Hindari mengendarai mobil di
daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem, persneling
dan pengapian
D.
MITIGASI BENCANA GUNUNG
BERAPI
Upaya memperkecil jumlah
korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan
yang perlu dilakukan :
1.
Pemantauan, aktivitas gunung
api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data
harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi
SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda
setempat.
2.
Tanggap Darurat, tindakan yang
dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara
lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan
tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu.
3.
Pemetaan, Peta Kawasan Rawan
Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi,
daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos
penanggulangan bencana.
4.
Penyelidikan gunung berapi
menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan
ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya.
5.
Sosialisasi, petugas melakukan
sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat terutama yang tinggal di
sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi
kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.
PUSTAKA
Anonim. 2007. Panduan Umum
Penanganan Bencana Berbasis Masyarakat. Bali : Yayasan IDEP. Download dari http://bencana.net pada 15 Oktober 2008
Anonim. 2008. Anggaran Penanggulangan Bencana Sleman Rp1,3 Miliar. Download dari www.ghabo.com pada 22
Oktober 2008
Anonim.
2008. Indonesia Adalah Derah Rawan Bencana. Download dari http://www.inspiraindonesia.com/ pada 15 Oktober 2008
Anonim.
2008. Pusat Studi Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta. Download
dari www.psmbupn.org pada 15 Oktober 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar