ANALISA JOURNAL
TRIAGE IN
EMERGENCY PSCHIATRY
By. Ns, Sulistyono, M.Kep
Kedaruratan psikiatris mendapatkan
perhatian yang lebih besar didalam departemen psikiatri, hal ini dikarenakan
kebutuhan untuk penanganan gawat darurat sangat dibutuhkan berdasarkan realita
di lapangan kejadian kegawatdaruratan yang tidak tertangani mayoritas terjadi
di area komunitas / masyarakat. Salah satu bentuk penanganan kegawatdaruratan
adalah sistem triage. Triage merupakan satu cara yang efektif
untuk memberikan respon pada pasien yang dalam keadaan darurat.
Pelaksanaan sistem triage bisa dilakukan langsung dilokasi kejadian atau
melalui pesawat telpon. Dinegara-negara maju pelayanan sistem triage sudah
menggunakan sambungan telpon, karena Pelayanan triage melalui sambungan telepon
berdampak pada kecepatan dalam merespon adanya peristiwa gawat darurat
disamping itu sangat berguna untuk memberikan tindakan secara cepat dan tepat
minimal dalam menentukan diagnosa dan menentukan tindakan yang tepat.
Di beberapa negara maju misalnya New Zeland dan Australia, pelayanan sistem
triage sudah dilakukan diarea rumah sakit jiwa maupun di komunitas / masyarakat
dan dilakukan oleh tenaga klinik keperawatan yang berpengalaman walaupun alur
penerapan sistem triage antara rumah sakit jiwa dan komunitas berbeda hal ini
dikarenakan sistem birokrasi dan keterbatasan sumber daya manusia. Di Indonesia
pelaksanaan sistem triage di departemen jiwa belum terlaksana dengan baik,
sementara ini pelaksanaan triage hanya dilakukan di rumah sakit jiwa sedangkan
di komunitas / masyarakat belum terlaksana dengan baik begitu juga dengan siapa
yang menanganinya, di Indonesia pelaksanaan sistem tiage di rumah sakit jiwa
lebih banyak dilakukan oleh tenaga medis tetapi sebenarnya tindakan triage merupakan
tanggung jawab tenaga keperawatan yang berkolaborasi dengan tim medis khususnya
dalam penentuan diagnosa medis dan penentuan terapi psikofarmakologi.
Sebenarnya untuk sistem triage di kegawat daruratan
psikiatrin belum ada konsensus yang baku artinya tiap – tuap negara berbeda dalam penerapan sistem triage
suatu contoh di negara New zeland dan Australia penerapan sistem triage sama
tetapi di negara lain berbeda, ada yang menggunakan 3 penggolongan tingkat
emergency, yaitu major emergegency (indication suicide, violent / perilaku
kekerasan) minor emergency (agitasi), medical emergency (penyalah gunaan
narkoba / NAPZA), bahkan di negara jepang belum ada pelaksanaan sistem triage
di departemen psikiatri, tetapi bagaimanapun itu, pelaksanaan sistem triage, ini adalah sangat penting
karena akan berdampak pada kemudahan dalam mendapatkan pelayanan gawat darurat
minimal bisa digunakan untuk menegakkan diagnosa medis maupun diagnosa
keperawatan dan dapat digunakan untuk memberikan tingkat kegawat daruratannya
sehingga dalam penanganannya bisa cepat dan tepat serta bisa meminimalisisr
resiko yang terjadi baik itu resiko mengancam nyama klien, orang lain maupun resiko
merusak lingkungan sekitar. Dan tim medis harus memberikan keputusan segera sebagai keadaan
darurat. Pembahasan ini berdampak pada kemudahan untuk mendapatkan akses pelayanan
klinik termasuk memberikan pelayanan per telepon untuk triage yang mana hal
tersebut dioperasikan oleh petugas klinik senior.
Berdasarkan catatan dinegara-negara maju dan juga di Indonesia, yang masuk kedarurat psikiatris kejadian
kegawatdaruratan sering terjadi di tengah-tengah mayarakat, dan di negara maju dari beberapa kejadian kegawat daruratan
psikiatri di masyarakat setelah dilakukan triage sebagian besar klien dirujuk
ke rumah sakit jiwa dan sebagian kecil dirujuk ke pelayanan Community Mental
Health Resource Team (CMHRT). Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang
mana bila terjadi kasus kegawat daruratan psikiatri di komunitas tidak ada yang
melakukan sistem triage, dan penanganannya dirujuk ke rumah sakit jiwa, tetapi
tidak jarang pula di bawa ke pengobatan alternatif bahkan ada yang dipasung. Untuk
jenis kasus kegawat daruratan yang sering terjadi adalah kekacauan kepribadian (40%), diikuti oleh
masalah alkohol (19%), penyakit jiwa dan delusional (14%) dan disorientasi(10%).
Di negara-negara maju pelayanan gawat darurat yang
tersedia meliputi
pelayanan
penanganan penyalahgunaan NAPZA, dan pelayanan Community Mental Health Resource
Team (CMHRT), yang mana dalam pelaksanaannya dilakukan pengobatan secara tersier. Kasus emergency psikiatri sering dialami kaum
laki-laki dengan perbandingan laki-laki dan perempuan angka kejadian rasionya dalah 3: 2, dengan satu
jangkauan umur keseluruhan antara 18 - 89 tahun (maksudkan 58 tahun) dengan mayoritas terjadi pada umur 50 tahun. Pada saat kejadian emergency psikatri, petugas yang
menangani paling banyak dilakukan oleh perawat sebanyak (97%) selebihnya
dilakukan oleh tenaga medis, kepolisisan, Dan kejadianya sering terjadi pada waku malam dibandingkan waktu
siang.
Melakukan kontak / koordinasi dengan pelayanan psikiatri baik yang ada saat
terjadi keadaan gawat darurat harus segera dilakukan karena keadaan crisis psikiatrik harus diantisipasi dengan cepat baik
yang terjadi di komunitas maupun di rumah sakit jiwa karena hal ini dapat
menjaga keselamatan orang lain, lingkungan maupun keselamatan klien sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar