Rabu, 03 Agustus 2016

TRIAGE IN EMERGENCY PSCHIATRY



ANALISA JOURNAL
TRIAGE IN EMERGENCY PSCHIATRY
By. Ns, Sulistyono, M.Kep

Kedaruratan  psikiatris mendapatkan perhatian yang lebih besar didalam departemen psikiatri, hal ini dikarenakan kebutuhan untuk penanganan gawat darurat sangat dibutuhkan berdasarkan realita di lapangan kejadian kegawatdaruratan yang tidak tertangani mayoritas terjadi di area komunitas / masyarakat. Salah satu bentuk penanganan kegawatdaruratan adalah sistem triage. Triage merupakan satu cara yang efektif untuk memberikan respon pada pasien yang dalam keadaan darurat. 
Pelaksanaan sistem triage bisa dilakukan langsung dilokasi kejadian atau melalui pesawat telpon. Dinegara-negara maju pelayanan sistem triage sudah menggunakan sambungan telpon, karena Pelayanan triage melalui sambungan telepon berdampak pada kecepatan dalam merespon adanya peristiwa gawat darurat disamping itu sangat berguna untuk memberikan tindakan secara cepat dan tepat minimal dalam menentukan diagnosa dan menentukan tindakan yang tepat.

Di beberapa negara maju misalnya New Zeland dan Australia, pelayanan sistem triage sudah dilakukan diarea rumah sakit jiwa maupun di komunitas / masyarakat dan dilakukan oleh tenaga klinik keperawatan yang berpengalaman walaupun alur penerapan sistem triage antara rumah sakit jiwa dan komunitas berbeda hal ini dikarenakan sistem birokrasi dan keterbatasan sumber daya manusia. Di Indonesia pelaksanaan sistem triage di departemen jiwa belum terlaksana dengan baik, sementara ini pelaksanaan triage hanya dilakukan di rumah sakit jiwa sedangkan di komunitas / masyarakat belum terlaksana dengan baik begitu juga dengan siapa yang menanganinya, di Indonesia pelaksanaan sistem tiage di rumah sakit jiwa lebih banyak dilakukan oleh tenaga medis tetapi sebenarnya tindakan triage merupakan tanggung jawab tenaga keperawatan yang berkolaborasi dengan tim medis khususnya dalam penentuan diagnosa medis dan penentuan terapi psikofarmakologi.

Sebenarnya untuk sistem triage di kegawat daruratan psikiatrin belum ada konsensus yang baku artinya tiap – tuap  negara berbeda dalam penerapan sistem triage suatu contoh di negara New zeland dan Australia penerapan sistem triage sama tetapi di negara lain berbeda, ada yang menggunakan 3 penggolongan tingkat emergency, yaitu major emergegency (indication suicide, violent / perilaku kekerasan) minor emergency (agitasi), medical emergency (penyalah gunaan narkoba / NAPZA), bahkan di negara jepang belum ada pelaksanaan sistem triage di departemen psikiatri, tetapi bagaimanapun itu, pelaksanaan sistem triage, ini adalah sangat penting karena akan berdampak pada kemudahan dalam mendapatkan pelayanan gawat darurat minimal bisa digunakan untuk menegakkan diagnosa medis maupun diagnosa keperawatan dan dapat digunakan untuk memberikan tingkat kegawat daruratannya sehingga dalam penanganannya bisa cepat dan tepat serta bisa meminimalisisr resiko yang terjadi baik itu resiko mengancam nyama klien, orang lain maupun resiko merusak lingkungan sekitar. Dan tim medis harus memberikan keputusan segera sebagai keadaan darurat. Pembahasan ini berdampak pada kemudahan untuk mendapatkan akses pelayanan klinik termasuk memberikan pelayanan per telepon untuk triage yang mana hal tersebut dioperasikan oleh petugas klinik senior.

Berdasarkan catatan dinegara-negara maju dan juga di Indonesia, yang masuk kedarurat psikiatris kejadian kegawatdaruratan sering terjadi di tengah-tengah mayarakat, dan di negara maju  dari beberapa kejadian kegawat daruratan psikiatri di masyarakat setelah dilakukan triage sebagian besar klien dirujuk ke rumah sakit jiwa dan sebagian kecil dirujuk ke pelayanan Community Mental Health Resource Team (CMHRT). Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang mana bila terjadi kasus kegawat daruratan psikiatri di komunitas tidak ada yang melakukan sistem triage, dan penanganannya dirujuk ke rumah sakit jiwa, tetapi tidak jarang pula di bawa ke pengobatan alternatif bahkan ada yang dipasung. Untuk jenis kasus kegawat daruratan yang sering terjadi adalah kekacauan kepribadian (40%), diikuti oleh masalah alkohol (19%), penyakit jiwa dan delusional (14%) dan disorientasi(10%). 

Di negara-negara maju pelayanan gawat darurat yang tersedia meliputi pelayanan penanganan penyalahgunaan NAPZA, dan pelayanan Community Mental Health Resource Team (CMHRT), yang mana dalam pelaksanaannya dilakukan pengobatan secara tersier. Kasus  emergency psikiatri sering dialami kaum laki-laki dengan perbandingan laki-laki dan perempuan angka kejadian rasionya dalah 3: 2, dengan satu jangkauan umur keseluruhan antara 18 - 89 tahun (maksudkan 58 tahun) dengan mayoritas terjadi pada umur 50 tahun. Pada  saat kejadian emergency psikatri, petugas yang menangani paling banyak dilakukan oleh perawat sebanyak (97%) selebihnya dilakukan oleh tenaga medis, kepolisisan, Dan kejadianya sering terjadi pada waku malam dibandingkan waktu siang. 

Melakukan kontak / koordinasi dengan pelayanan psikiatri baik yang ada saat terjadi keadaan gawat darurat harus segera dilakukan karena keadaan crisis psikiatrik harus diantisipasi dengan cepat baik yang terjadi di komunitas maupun di rumah sakit jiwa karena hal ini dapat menjaga keselamatan orang lain, lingkungan maupun keselamatan klien sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar